Sepeninggal dari pertarungan bom para manusia, dalam rentang waktu enam tahun, antara 1939 hinga 1945, tidak kurang dari 12 juta manusia menjadi korban. Ada dua kejadian pada waktu itu. Manusia yang dibasmi secara sistematik dan keji di bawah kebijakan satu orang saja: Adolf Hitler. Pada waktu itu, Hitler sebagai Kanselir Jerman (1933-1945) sekaligus Diktator Jerman Nazi (1934-1945). Sepanjang waktu itu pula, ia menjadi tokoh utama Jerman Nazi, turut bertarung dalam Perang Dunia II di Eropa, serta terlibat dalam Holocaust. Sebenarnya Hitler pernah terlibat sebagai relawan dalam Perang Dunia I, di Prusia. Hitler lahir di Austria, 20 April 1889. Meninggal dalam usia 56 tahun, di Berlin, 30 April 1945. Sampai 7 April 1925, ia masih berkebangsaan Austria. Warga Jerman hingga 25 Februari 1932. Setelah berhasil mendapat kekuasaan, ia menjadikan Jerman dengan partai tunggal yang didasarkan pada ideologi Nazi yang totaliter –sebuah partai buruh nasional-sosialis dengan jumlah pendukung tahun 1945 sekitar 8,5 juta. Tahun 1945 pula partai ini dibubarkan.
Jumlah jiwa itu, disebabkan melalui pembasmian manusia secara sistematis. Tidak hanya Yahudi. Korban ada dari tawanan perang Soviet, komunis, Polandia, musuh politik dan keagamaan, bahkan untuk etnis Jerman sendiri. Cara dibasmi juga beragam. Ada yang melalui kerja paksa, ada yang ditembaki secara massal, dikurung, dan yang sistematis dibunuh di dalam kamar gas.
Itu dianggap sebagai catatan kelam, yang bahkan melebihi dari jumlah korban pemusnah massa yang dijatuhkan sekutu di Hiroshima dan Nagasaki. Jumlah korban bom atom tahun 1945 itu, dalam beberapa detik saja, 170 ribu orang menjadi korban.
Dalam catatan Karlina Leksono, melalui tulisan “Akhir sebuah Millenium” dalam Majalah Forum Keadilan edisi 2 Januari 2000, kejadian di atas termasuk salah satu tragedi besar di millenium pertama masehi dunia. Tragedi besar lainnya adalah kematian hitam sepanjang 1348-1350, di mana dalam enam bulan, sepertiga penduduk wilayah sepanjang India sampai Islandia (lebih dari 20 juta orang) musnah akibat wabah pes tak terkendali. Kisah mengerikan ini dicatat oleh Barbara Tuchman, dalam A Distant Mirror, (Knopf, 1978). Buku A Distant Mirror: The Calamitous 14th Century, ini menceritakan krisis akhir abad pertengahan yang melanda Eropa. Tuchman menceritakan perang yang berabad, pada saat yang sama, terjadi wabah hitam yang memusnahkan banyak manusia. Dalam buku ini juga diulas kebangkitan Ottoman di Eropa.
Walau cerita tentang wabah hitam begitu mengerikan, namun tetap saja ia tidak lepas dari cerita perang secara keseluruhan. Makanya bagi Karlina Leksono, akhir sebuah millenium, tidak ada artinya, kecuali terpenuhinya satu putaran bumi mengitari matahari, untuk meneruskan ke millenium berikutnya.
Karlina adalah astronom Indonesia dari Institut Teknologi Bandung, yang kemudian turut memperdalam filsafat, selain fisika, matematika, dan metafisika. Ilmu filsafat diselesaikan pada tataran doktoral di Universitas Indonesia dengan disertasi Wajah-wajah Alam Semesta, Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif di Universitas Indonesia. Yang sangat penting bagi saya, ketika 19 Februari 1998, ia menggerakkan demonstrasi bersama aktivis Suara Ibu Peduli menuntut turunnya harga susu.
Dengan demikian, catatannya tentang apa yang telah terjadi, bukanlah sesuatu yang kebetulan. Bagi saya senjata menjadi salah satu yang utama, ketika disebutkan bahwa kita sedang meninggalkan suatu millenium yang mengerikan. Oleh Karlina disebut sebagai era yang melahirkan konsep absurd penjahat perang dan yang terlibat adalah hostis humani generis (musuh seluruh kemanusiaan).
Apa yang ada di belakangnya? Ada yang memandang senjata sebagai modalnya. Namun moral, tidak boleh dilupakan. Ketiadaan moral, ketika bergabung dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang terjadi adalah berbagai perkembangan yang banal dan liar.
Sebagian bagian yang liar itulah, manusia berusaha saling menciptakan bom pada masa depan. Manusia kini, sudah mulai menciptakan bom kimia dan biologis. Lebih parah lagi manusia punya teknologi merakit bom genetik, yang dapat diprogramkan membunuh manusia hanya dengan kode genetik tertentu. Secara massal, manusia akan bisa dimusnahkan dengan kode tertentu.
Kenyataan ini, membawa kita kepada kehidupan yang seolah-olah seperti orang memegang sebuah remote control. Orang yang mengendalikan, hanya membutuhkan tekanan pada kode tertentu untuk menghabiskan jumlah orang yang diinginkan. Itulah perkembangan terbaru dari perkembangan kontestasi senjata antar ras manusia. Jika perkembangan lambat tergambar dalam millenium pertama, maka bukankah awal abad ke-21, awal millenium kedua ini, justru memperlihatkan kemajuan yang berlipat-lipat?
Pertanyaan yang lahir adalah, senjata apa lagi yang memungkinkan dan akan diciptakan manusia setahun, seabad, atau sepuluh abad lagi?