Setiap kampus, terutama strata dua dan tiga, mewajibkan setiap lulusannya memiliki artikel ilmiah. Sebenarnya dulu, strata satu pun ada kewajiban itu. Kampus-kampus menyediakan Jurnal Ilmiah Mahasiswa untuk menjawab kepentingan publikasi mahasiswa.
Ada catatan bahwa artikel itu lahir dari penelitiannya. Dalam panduan disebut tugas akhir. Setiap mahasiswa, kini memiliki pilihan terkait tugas akhir itu. Namun apapun pilihan tugas akhir, tetap didahului oleh riset. Di fakultas kami, untuk strata satu, selain skripsi, dikenal momerandum dan studi kasus. Pilihan lain, dapat berupa artikel, yang disyaratkan sebagai pengganti tugas akhir, haruslah Sinta 2. Sedangkan strata dua, wajib publikasi di Jurnal Sinta 2 atau Jurnal Internasional. Jika seorang mahasiswa bisa menembus Jurnal berindeks Scopus, ia tidak harus mengikuti ujian tugas akhir. Demikian juga dengan mahasiswa strata tiga, wajib jurnal bereputasi internasional (Scopus atau web of Science). Namun jika mereka menembus Q1, tidak harus mengikuti ujian terbuka lagi.
Tegasnya, artikel itu, wajib. Setiap mempersiapkan sebuah proposal penelitian, hal yang wajib disediakan penulisnya adalah luaran dalam bentuk artikel tersebut –kecuali strata satu yang kebijakannya sudah berubah. Di luar kepentingan studi, setiap penelitian dari kampus pun selama ini wajib tersedia luaran tersebut.
Saya teringat pada masa lalu, melakukan penelitian itu dipisahkan dari luaran. Hal yang penting adalah melakukan penelitian, sedang pertanyaan bagaimana mempertanggungjawabkan luaran dari penelitian itu, sama sekali tidak dibahas –sebagai bagian program. Hal ini akan dibahas sendiri oleh masing-masing peneliti.
Pada posisi di atas, orang yang aktif akan berusaha menghasilkan luaran yang baik. Orang-orang yang memiliki publikasi di jurnal, hasil itu lebih karena yang bersangkutan aktif dan menyadari kebutuhan, bukan karena kewajiban luaran.
Saat ini saya kira berbeda. Dari awal penulisan proposal, syarat sudah menentukan luaran apa yang harus disediakan oleh peneliti. Walau peneliti juga sangat ditentukan kreativitasnya. Seorang peneliti yang menerima satu luaran, namun realitasnya bisa saja mencapai beberapa luaran. Mencapai artikel yang berkualitas, dari jurnal yang dilaksanakan, adalah sebuah momentum yang seyogianya dimanfaatkan. Orang-orang yang melakukannya dengan apa adanya, ia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat banyak hal dari satu pekerjaan yang dilakukan.
Saya ingin menganalog dengan satu keadaan. Ada satu dialog yang berlangsung antara dua tukang batu. Seorang di antara mereka bertanya kepada yang lain, perihal tujuan apa yang menyebabkan ia menjadi tukang batu. Pekerja yang satu menyebut bahwa ia memiliki banyak kebutuhan dalam hidup. Dengan bekerja sebagai tukang batu akan mendapatkan imbalan dalam rangka mencukupi kebutuhan hidupnya. Lantas ketika ditanya pada pekerja yang satu lagi, ia mengungkapkan keinginannya untuk tidak hanya mendapat imbalan, melainkan lebih dari itu, mendapat keberkahan dari Allah swt karena berpikir dari awal bahwa tukang batu itu adalah pekerjaan yang baik dan berguna bagi banyak orang.
Ternyata rasa yang akan diterima oleh keduanya juga berbeda. Seorang yang berhenti pada kepentingan untuk mendapatkan imbalan materi, ia akan merasa tugasnya sudah selesai ketika itu sudah didapat. Sebaliknya, orang yang satu lagi, ia juga butuh imbalan, namun pekerjaannya dilakukan dengan kondisi bahagia yang tiada tara. Orang yang demikian akan merasa bahwa tidak cukup hanya dengan menerima imbalan, melainkan harus dibarengi dengan usaha membagi kebahagiaan kepada semakin banyak orang-orang yang di sekelilingnya. Harapan sederhana ini, ingin mencapai rasa kebahagiaan dari tugasnya sebagai tukang batu.
Pada dasarnya menulis juga demikian. Dengan perkembangan zaman, menulis diharapkan lahir dari proses meneliti. Berbagai artikel yang dilahirkan, sangat diharapkan berasal dari riset yang dilakukan. Pertanyaannya apakah tidak boleh seseorang yang meneliti lantas tidak melanjutkan hasil risetnya untuk menghasilkan artikel? Pertanyaan demikian juga bisa dibalik. Apakah tidak boleh seseorang yang melakukan riset lantas melanjutkan hasil risetnya untuk menulis artikel?
Dua pertanyaan demikian cukup tergambar bahwa ada harapan seseorang yang meneliti tidak lantas berhenti pada laporannya semata. Berbagai riset sudah dituntut untuk melahirkan keluaran tertentu. Orang yang berpuas diri dengan hasil riset, mungkin keluaran artikel juga bukan sesuatu yang diharapkan. Padahal dengan menjangkau banyak keluaran dan output, persis seperti ungkapan yang menyebutkan “sekali mendayung, dua-tiga pulau akan terlampaui”.
Rumusnya sangat sederhana. Ada keterkaitan antara penyelesaian tugas penelitian dengan melahirkan berbagai hal yang menjadi ikutannya. Jika hal tersebut dilanjutkan, juga sangat banyak penerima manfaat, terutama kampus dan tentu bagi peneliti itu sendiri. Orang yang tidak mau bersusah payah akan berpuas diri pada tingkat tertentu. Padahal dengan satu pekerjaan, akan bisa menghasilkan banyak keuntungan yang lain, jika itu digarap dengan rencana yang matang dan saksama.
Harus ada cita-cita besar yang tercermin dari pekerjaannya. Sesuatu yang dilakukan tidak berhenti pada makna tertentu, melainkan harus menjangkau beberapa langkah di depannya. Hal demikian bisa dilakukan oleh siapa saja. Tugas untuk meneliti, apalagi ditopang oleh pembiayaan tertentu, maka jangan berhenti ketika laporan penelitian tersebut sudah diselesaikan. Harus lebih besar dari sekedar untuk menyelesaikan kewajiban demikian. Inilah yang saya maksudkan bisa dilakukan semua orang. Kita harus berkaca pada seorang tukang batu, yang justru akan mendatangkan kebahagiaan besar bagi diri dan orang lain ketika ia melakukan pekerjaannya. Ia tidak berhenti hanya dengan target upah dari pekerjaannya sebagai tukang batu semata, melainkan ingin memperoleh rasa bahagia yang lebih besar dan menghujam.
Rasa bahagia menjadi impian semua orang. Ada orang yang berusaha keras untuk mencapainya, ada orang yang berproses biasa-biasa saja. Tentu rasa bahagia yang sesungguhnya hanya akan dicapai oleh mereka yang berusaha keras tersebut.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.