Alhamdulillah. Tahun ini, Puasa hadir kembali. Tahun 1447 H. Ada perbedaan menyambutnya. Hari pertama Puasa, sebagian jatuh pada 19 Februari 2026. Simpulan resmi sudah diumumkan Kementerian Agama sehari sebelumnya. Namun Muhammadiyah, sudah mengumumkan jauh-jauh hari, mulai berpuasa pada 18 Februari 2026.
Perbedaan antara lain disebabkan penggunaan metode hisab dan hilal. Tentu, tidak juga sesederhana itu. Ada hal lain yang seyogianya harus dipahami. Soal bagaimana seseorang atau sekelompok orang dalam menyambut Puasa, dengan posisi yakin sebagai keimanan, selalu ada sisi lain yang tidak semua orang bisa memahaminya secara utuh. Ketika paham kondisi tersebut, maka tidak muncul penghakiman, dsb.
Hal penting bukan pada perbedaan. Tidak ada masalah dengan berbeda. Tetapi pada batin umat sangat penting untuk bersama. Belajar dari beberapa momentum, perbedaan terjadi. Masyarakat sudah terbiasa dengan perbedaan, walau dalam tataran lain, juga pernah bermasalah. Misalnya mereka yang merayakan hari rayanya yang akan berbeda dengan hari yang ditetapkan pemerintah, pernah kesulitan mendapatkan tempat shalat hari raya dengan layak.
Semalam, saya menyambut Puasa di Gampong Limpok —gampong kami (salah satu gampong dalam Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar). Di masjid, saya lihat warga menyambutnya dengan gembira. Masjid lumayan penuh walau hujan lebat mengguyur sejak sore. Setiap Puasa, masjid kami selalu didahului pimpinan kampung menyampaikan. Seperti harapan keusyik, mudah-mudahan kondisi jamaah akan bertahan hingga akhir–sebagai bulan penuh rahmat dan ditunggu-tunggu. Tamu agung yang lebih sempurna dibanding 11 bulan hijriah lainnya. Semua bulan penting, dan sepanjang waktu kehidupan manusia, memiliki momentumnya masing-masing, namun Puasa menempati momentum paling penting bagi kehidupan manusia.
Puasa ingin memberi hikmah bagaimana seseorang bisa pandai merasa kondisi orang-orang yang tidak berpunya. Ada orang yang tidak cukup makan, dengan kondisi yang konflik pula. Mereka yang tidak memiliki sumber makan yang cukup, tidak memiliki ruang yang nyaman dalam mencari berbagai kebutuhannya.
Saya membayangkan bagaimana derita yang dirasakan masyarakat Palestina, yang terus diperangi Israel tiada habis-habisnya. Mereka menggunakan berbagai senjata. Memerangi sipil –bahkan anak-anak dan Wanita—dengan membabi buta. Puasa, barangkali menjadi salah satu momentum merasakan berbagai derita, seperti derita bagaimana mereka tidak bisa makan dengan baik.
Terlepas bagaimana terasa sesungguhnya, tetapi ini soal keseyogiaan merasa, agar orang pandai merasa kondisi orang yang tak berpunya, bukan merasa pandai. Orang yang pandai merasa, akan memahami betapa orang-orang miskin itu tidak sepatutnya dijadikan alat, sebagaimana dipermainkan oleh orang-orang yang merasa pandai. Orang pandai merasa, tahu bahwa lapar tak saja soal ketiadaan makanan, namun juga soal keberpihakan. Keberadaan “miskin” mereka tak semata karena kemampuan dirinya, melainkan turut ditentukan oleh orang-orang yang disekelilingnya. Orang pandai merasa tahu, bahwa lapar itu, jika banyak orang ikhlas menyelesaikannya, maka tidak butuh waktu lama ia akan tuntas. Kenyataannya tidak. Orang-orang yang merasa pandai, hanya menjadikan orang lapar bagi pencapaian sesuatu yang lebih besar. Mereka yang lapar tetap sebagai atas nama yang dibawa kemana-mana. Mereka ditaruh dalam amplop, dijilid rapi, lalu disorong ke sana ke mari.
Untuk masuk ke dalamnya, kita memang harus banyak berbenah untuk merasakan lahir dan batin orang lapar secara sesungguhnya. Puasa, menjadi momentum penting untuk kita belajar kondisi banyak orang di sekitar kita.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.