Waktunya Menyambut Puasa

Setiap menyambut bulan puasa –bulan Ramadan atau Ramadhan, selalu ada rasa batin berbeda. Saya mendengar hal tersebut dari sejumlah orang yang saya kenal. Walau sulitnya untuk mengukur rasa batin itu. Tetapi dari sejumlah orang, saya …

Setiap menyambut bulan puasa –bulan Ramadan atau Ramadhan, selalu ada rasa batin berbeda. Saya mendengar hal tersebut dari sejumlah orang yang saya kenal. Walau sulitnya untuk mengukur rasa batin itu. Tetapi dari sejumlah orang, saya sedikit memahami yang dimaksud adalah ada perasaan bahagia yang berbeda dari waktu yang lain, waktu selain atau sebelum puasa tiba.

Sejumlah kesempatan menjelang puasa saya juga pernah mendapat pertanyaan yang sama dari orang lain –juga orang yang saya kenal. Bahkan terkait hal apa yang menyebabkan rasa batin itu muncul? Apakah bisa diukur sebahagia apa kita ketika menyambutnya? Lalu apakah semua yang diinginkan selalu terwakilkan dari jawaban-jawaban lisan? Untuk saya menjawab pertanyaan ini, juga sulit bisa terukur.

Saya kira tidak cukup hanya dengan jawaban lisan. Rasa bahagia yang kita rasakan, idealnya tampak melalui ekspresi dan realitas kehidupan kita menyambutnya. Masing-masing orang bisa saja berbeda dalam mengungkapkan termasuk bagaimana seseorang mengungkapkan rasa bahagianya itu. Bisa saja seseorang akan membersihkan diri, membersihkan rumahnya dengan baik, mempersiapkan bahan makanan, dsb.

Lambat laun sepertinya apa yang menjadi pertanyaan itu akan terasa dan terjawab dengan sendirinya. Orang lebih bisa merasakan dibanding mengungkapkan. Semua bisa dengan menunjukkan bahasa tubuhnya. Bisa juga dengan apa yang dilakukannya. Hal-hal tersebut pada dasarnya cermin dari perasaan bahagia itu.

Lalu sejak memasuki malam pertama di bulan Puasa, mungkin Anda termasuk yang memiliki pengalaman, dengan mendapatkan banyak ceramah. Mulai dari hal-hal yang teknis, sampai hal-hal yang substantif dari puasa. Semuanya penting. Anda diajarkan soal niat berpuasa, bahkan niat shalat tarawih. Mudah-mudahan niat shalat wajib, semua kita sudah fasih.

Penceramah sering menyanjung kita sebagai pendengar, soal posisi kita sebagai manusia yang sering lupa. Penceramah sering mengaku hanya mengingatkan untuk mengulang-kaji. Sebuah cara mengajar dengan halus.

Pada malam pertama saya mendengar sejumlah hal itu. Tentu saya hanya bisa menjangkau satu tempat. Saya tanya ke sejumlah teman soal apa yang ia dengar dari ceramah, juga sama di tempat mereka.

Itulah mulai masuk hari pertama, kita masuk dalam 1 bulan yang penuh rahmat. Tamu agung yang lebih sempurna dibandingkan 11 bulan hijriah lainnya. Semua bulan penting, dan sepanjang waktu perkembangan kehidupan manusia, memiliki momentumnya masing-masing. Namun bulan Puasa menempati momentum paling penting dari semua urut yang penting bagi kehidupan manusia.

Bulan ini disambut orang dengan tangisan kebahagiaan, namun juga digelisahkan sebagian manusia. Orang-orang yang bahagia, sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari. Orang-orang yang merasa bahagia akan menyambut bulan ini secara bersahaja. Marilah kita membayangkan seperti orang menaruh bunga yang menerbangkan semerbak wangi di ruang tengah rumahnya. Ia berharap bulan Puasa ini mampu dia kuatkan semangat dan aktivitas sewangi bunga yang ditaruh itu.

Orang seperti itu merasa persiapannya jauh kurangnya, bila dibandingkan dengan kenikmatan yang akan diperoleh sesudahnya. Ketahuilah, mempersiapkan diri secara sempurna, bahkan ketika seseorang sudah merasa tidak dapat menahan rindu berhari dan berbulan sebelumnya.

Menunggu ia tiba.

Sedangkan orang-orang yang gelisah, menunggu bulan ini dengan sia-sia. Selalu merasa takut tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang gelisah, jangan pernah gundah, karena masih ada waktu untuk segera berbalik rasa.

Jangan menunggu ketika nanti menjelang apa-apa, kita sudah masuk ke dalamnya, sementara batin kita belum merasakan apa-apa. Ketika pada taraf itu, satu pertanyaan penting yang harus teresap mendalam di benak kita, bahwa masukkah kita pada golongan orang-orang yang dipanggil itu?

Harus kita ingat bahwa tidak semua manusia merasa dipanggil. Berdukalah ketika kita merasa terhalang masuk ke dalamnya. Akan tetapi, sekali lagi, masih ada waktu untuk mempersiapkan.

Ketika dipanggil untuk berpuasa, orang-orang juga memiliki pengecualian. Kondisi khusus yang menyebabkan orang tidak mampu melakukan puasa, tetap ada rumusnya. Lalu apanya yang masih kita anggap berat?

Ada satu hal penting yang menjadi hikmah di balik puasa, yakni pada keseyogiaan orang untuk merasakan apa yang dirasakan orang yang sedang terpaksa dalam lapar. Akan tetapi dunia bukankah selalu menghadirkan pembaruan? Ketika orang yang menahan lapar 12 hingga 16 jam, dengan dibantu pola konsumsi yang baik, mungkin jauh terasa ringan, dibandingkan dengan mereka yang jangankan untuk mengatur pola konsumsi, kebutuhan untuk konsumsi saja tidak ada. Semangatnya tetap merasakan sehati dengan orang lapar, walau dengan pola konsumsi, banyak orang yang tidak merasa apa-apa sepanjang 12 hingga 16 jam tersebut.

Terlepas bagaimana terasa sesungguhnya, tetapi ini soal keseyogiaan merasa, agar orang pandai merasa kondisi orang miskin, bukan merasa pandai. Orang yang pandai merasa, akan memahami betapa orang miskin itu tidak sepatutnya dijadikan alat, sebagaimana dipermainkan oleh orang-orang yang merasa pandai. Orang pandai merasa, tahu bahwa lapar tak saja soal ketiadaan makanan, namun juga keberpihakan.

Bulan Puasa harusnya akan mengajarkan kita selalu berefleksi, bahwa keberadaan orang miskin tak semata karena kemampuan dirinya, melainkan turut ditentukan oleh orang-orang yang disekelilingnya.

Orang pandai merasa tahu, bahwa lapar itu, jika banyak orang ikhlas menyelesaikannya, maka tidak butuh waktu lama ia akan tuntas. Kenyataannya tidak. Orang-orang yang merasa pandai, hanya menjadikan orang lapar bagi pencapaian sesuatu yang lebih besar. Mereka yang lapar tetap sebagai atas nama yang dibawa kemana-mana. Mereka ditaruh dalam amplop, dijilid rapi, lalu disorong ke sana ke mari.

Untuk masuk ke dalamnya, kita memang harus banyak berbenah untuk merasakan lahir dan batin orang lapar secara sesungguhnya.

Leave a Comment