Berpikir Untung

Orang yang hanya berpikir untung, akan dimanfaatkan berbagai kesempatan. Untung yang saya maksudkan tidak hanya terbatas pada mereka yang berprofesi jual-beli. Selain pedagang, banyak orang yang bisa memanfaatkan untung. Konteks untung pun tidak hanya sebatas …

Orang yang hanya berpikir untung, akan dimanfaatkan berbagai kesempatan. Untung yang saya maksudkan tidak hanya terbatas pada mereka yang berprofesi jual-beli. Selain pedagang, banyak orang yang bisa memanfaatkan untung. Konteks untung pun tidak hanya sebatas materi dan langsung. Banyak orang yang bisa menarik untung tidak melalui materi, dan diperoleh dalam waktu yang lama.

Corak berpikir demikian, harus dihindari dalam kehidupan. Kita harus mengingat bahwa semua perilaku dan perbuatan, pada saatnya akan diminitai pertanggungjawaban. Termasuk berbagai untung yang diperoleh, terutama yang diperoleh dari perilaku dan perbuatan buruk.

Pada lapis selanjutnya, tidak semua aktivitas pun melulu mengejar untung. Ada saatnya manusia hanya mengambil ala kadar. Untuk aktivitas yang bermanfaat bagi orang banyak, untung tidak harus dikedepankan. Ada kesempatan lain yang tersedia untuk mengambil untung yang lebih besar.

Pemanfaatkan momentum biasanya dilakukan dalam rangka proses untung-rugi ini. Di kawasan tertentu, ada fenomena baru. Namun di beberapa tempat, ternyata sudah berlangsung lama. Ada sejumlah orang yang membantu melakukan promosi atau apapun namanya terkait dengan jual-beli hewan yang diperuntukkan untuk ibadah. Barangkali umumnya suda sangat familiar dalam lima tahun terakhir. Dengan terlibatnya para sekelompok orang yang memang bekerja untuk promosi.

Orang semacam ini harus cantik, tidak boleh cacat, dan semacamnya. Mungkin dengan sedikit poles dan pakaian yang sudah ditentukan. Sales promotion girls (SPG) dalam jual-beli hewan untuk ibadah tertentu. Bagi mereka yang menggunakan jasa ini, alasannya mungkin sederhana, mengawinkan antara kepentingan mereka yang membutuhkan hewan, dengan efisiensi proses proses penjualan.

Mereka yang membutuhkan hewan untuk ibadah akan dilayani sedemikian rupa agar cepat memperoleh apa yang dibutuhkan, sekaligus mengambil keputusan dalam waktu cepat. Siapa yang meyakinkan agar pembeli memberi keputusan yang cepat, tentu SPG ini. Dalam konteks ini, mereka yang punya usaha, tentu tidak bisa mendampingi semua pembeli dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu, tidak semua penjual juga siap dengan berbagai sikap para pembeli. Bahkan ada mungkin pembeli yang didampingi oleh penjual berjam-jam lamanya, namun akhirnya tidak ada satu pun yang dibeli.

SPG membuat dunia jual-beli hewan ini semakin menarik. Bagi saya, dalam konteks relasi sosial –atau bahkan ekonomi, sama menariknya dengan muncul salon dadakan bagi hewan yang akan diperuntukkan untuk ibadah. Namanya salon, untuk mempercantik. Dalam konteks hewan, salon dibutuhkan untuk menghilangkan bau yang kurang enak, membersihkan agar enak dipandang, dan melembutkan bulu agar enak dipegang. Upah mereka tidak terlalu tinggi. Rata-rata mungkin di bawah 50 ribu rupiah. Namun apa yang terjadi? ternyata hewan sehabis salon bisa meninggikan harga hingga 50 persen dari harga semula. Dalam kondisi begini, ada untung yang diperoleh semua pihak, penjual dan mereka yang menyediakan jasa salon.

Hal yang sama pada profesi SPG. Mereka digaji untuk melayani pembeli, sekaligus meyakinkan agar pemberi membeli. Kalkulasi matematis prinsipnya sama dengan bagaimana tukang salon hewan memoles hewan pembeli, yang dengan demikian meningkatkan harganya. Barangkali, dengan jasa profesi SPG, akan menghasilkan pembeli yang tidak bertele-tele. Mereka yang bekerja sebagai SPG hewan juga yang meyakinkan pembeli agar membeli hewan mereka dengan harga menarik.

Jual-beli dalam konteks yang ukhrawi, dilayani oleh proses yang sangat duniawi. Keren ‘kan? Bagi yang berpikir rumit, maka akan rumit fenomena ini. Sebaliknya, jika disederhanakan, maka akan tampak sederhana. Misalnya dengan pertanyaan, mengapa mereka yang bekerja untuk profesi ini, hanya orang yang dari tampak fisik tidak pas-pasan? Bukankah seseorang yang mencari untung, juga mempersiapkan langkah jitu untuk mendapatkannya? Sekali lagi, pada taraf ini seperti tidak penting lagi membedakan yang mana tujuan ukhrawi dengan kebutuhan duniawi.

Leave a Comment