Tidak semua bisa ditebak. Beberapa waktu yang lalu berdiri lantang untuk seseorang, lalu setelah pemegang kuasa berbalik, dengan lantang melakukan sebaliknya. Seperti tidak ada beban saat melakukan sesuatu yang bedanya bisa 180 derajat.
Seorang teman saya hanya berkomentar singkat: itulah donya. Orang tidak malu untuk memperoleh setumpuk tulang dengan menggadai moralitas dan perasaannya. Orang-orang yang demikian akan tercatat dalam sejarah perilakunya itu, yang sulit untuk terhapus.
Bisa jadi, kadang-kadang kita sedang menghadapi zaman yang bisa dibilang sebagai zaman serba salah. Ada tiga wajah untuk menggambarkan keadaan ini. Pertama, ada orang yang tidak pernah tidak berkomentar terhadap apapun yang dilakukan oleh orang lain, baik itu aktivitas yang baik, maupun aktivitas yang buruk. Semua hal diberi komentar. Dalam komentar itu sendiri, tidak selalu secara serius, ada juga yang dilakukan dengan suka-suka dan canda-ria.
Kedua, ada orang yang hanya berkomentar terhadap mereka yang melakukan perbuatan yang baik. Sebaliknya, diam dan duduk manis saja ketika mengetahui ada perbuatan yang buruk. Kebenaran dan kondisi baik-buruk juga dibolak-balik. Alasan ini lalu menjadi pembenar bahwa kebenaran itu semuanya relatif. Dengan demikian, bagi orang yang demikian, tidak ada yang namanya kebenaran yang sama. Masalahnya adalah ketika mengomentari yang buruk begitu gagah. Bukankah ini sebenarnya juga bagian dari mengakui tidak semua kebenaran itu relatif dan subjektif.
Ketiga, ada orang yang berdiam diri terhadap sesuatu yang baik, namun akan berkomentar terhadap yang buruk. Namun kelemahannya karena komentar saja ternyata belum cukup untuk melawan yang namanya keburukan. Aktivitas yang baik, bahkan sudah terorganisir dengan baik. Maka seharusnya, usaha untuk melawan yang buruk, juga harus dilakukan secara terorganisir. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib, kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir.
Di luar tiga pihak itu, sebenarnya ada pihak keempat, yaitu orang-orang yang diam saja baik untuk yang buruk maupun untuk yang baik. Orang yang demikian akan diam saja melihat sesuatu yang buruk. Namun demikian, tidak juga bereaksi terhadap aktivitas yang baik. Kelemahan orang yang demikian karena tidak memiliki sikap. Ujung-ujungnya, ia akan berpotensi untuk ikut kemana angin berhembus kencang. Jika tidak dijaga dengan hati-hati, orang-orang yang tidak punya sikap ini akan mudah ikut arus besar. Bukankah dunia sekarang sedang ditentukan oleh arus besar? Kebenaran menjadi buruk ketika itu dilakukan dan diakui oleh orang banyak? Lalu yang buruk bisa menjadi permata ketika banyak orang menyebutnya sebagai baik.
Kondisi ini yang sesungguhnya harus dinetralisir. Harus ada kekuatan untuk memperkuat barisan yang baeraktivitas baik. Memperkuat aktivitas baik ini tidak saja untuk melakukan perlawanan terhadap isu-isu yang buruk, melainkan juga menyadarkan generasi untuk tidak terjebak dalam berbagai perilaku buruh tersebut. Langkah ini bukan hal yang ringan, ketika perilaku buruk juga diperlihatkan oleh mereka yang seharusnya memberi contoh yang baik. Ketika kaum-kaum yang seharusnya melakukan yang baik, ternyata menjadi kekuatan penyokong utama pada kekuatan batil.
Dalam kondisi demikian, yang sangat mungkin diupayakan dalam jangka pendek adalah memerdekakan orang dalam posisi merdeka untuk berbuat yang baik. Jangan sampai orang baik itu justru dihukum dan dikomentari seolah-oleh sebagai pelaku aktivitas yang buruk. Sebaliknya, aktivitas yang buruk dan brengsek, justru dijadikan contoh dan dipuji-puji.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.