Selama ini banyak yang bertanya, mengapa saya harus menulis buku. Sebenarnya ada yang lebih menarik dibandingkan buku, yakni opini, esai, atau artikel surat kabar. Ada empat alasan penting mengapa pilihan ini lebih strategis. Pertama, surat kabar adalah ruang yang berpeluang berinteraksi langsung dengan publik. Gagasan melalui surat kabar akan berdampingan dengan berbagai produk jurnalistik yang dilahirkan. Produk-produk ini umumnya ditunggu oleh pembaca. Saya kira dalam dunia akademis sekali pun, tidak semasif ruang ini bagi penyampaian gagasan.
Kedua, pembaca surat kabar jauh lebih banyak, misalnya, kalau dibandingkan dengan jurnal ilmiah. Pembaca awam ada pada semua tempat dan tidak terbatas pada tempat tertentu secara ekslusif. Berbeda dengan produk yang lain, yang jumlahnya sangat tergantung dan ditentukan sejumlah hal, misalnya bagaimana mengakses, rumitnya memahami apa yang disampaikan, dan sebagainya.
Ketiga, karena pembaca lebih umumnya publik awam, maka penulis pun harus menyesuaikan dengan bahasa publik. Apa yang disampaikan seorang penulis harus dengan mudah terbaca dan tersampaikan. Apa yang mau disampaikan kepada publik pembaca, harus diupayakan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Keempat, gagasan apa pun yang disampaikan akan mengena masyarakat secara umum dan memungkinkan direkam dan diingat lebih banyak orang. Apa yang mereka terima, ingatan terkait apa yang disampaikan akan direkam dengan baik.
Kekurangan opini adalah pada ruangnya yang terbatas, sehingga tidak memungkinkan disampaikan dengan baik. dengan buku, saya memungkinkan menyampaikan gagasan secara utuh dan lengkap. Apa yang saya sampaikan, belum tentu sudah sempurna. Namun jika dibandingkan dengan jenis ruang yang lain, yang lebih terbatas.
Salah satu alasan yang membuat saya sangat suka pada buku. Terlepas dari berbagai kerumitannya. Saya yakin, semua karya ada kerumitan proses pengerjaan.
Selama ini, dalam pengerjaan buku pun, saya siapkan. Salah satu cara dalam menyelesaikan buku, dengan menargetkan waktu dalam menyelesaikan substansinya. Setiap hari saya menyicil dalam satu kolom sederhana. Namun menyicil ini tidak mungkin dilakukan tanpa menentukan sistematika bahasan secara utuh.
Untuk menyelesaikan satu buku, dari awal, saya kira kita sudah tahu batasan substansinya. Dengan batasan tersebut, lalu dikongkretkan dengan sistematika hingga detail: mulai dari bab, subbab, hingga ke bagian terkecil dari masing-masing bab. Dengan komposisi demikian, akan mempermudah dalam menentukan bagaimana dan kapan bagian-bagian ini akan disetor.
Penulis bisa menentukan hingga ketebalan buku berdasarkan luas atau sempitnya pembahasan. Lalu dengan target ini bisa dibagi, hingga bisa ditentukan sebuah buku akan diselesaikan dalam berapa lama.
Tentu saja, saya tidak ingin melupakan kerumitan lain, yakni soal bagaimana seseorang mengelola pengetahuan yang menjadi substansi dari satu buku.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.