Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan buku dalam sejumlah makna. Makna pertama, buku, lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab. Dalam makna ini, buku termasuk yang tidak ada isinya. Kumpulan kertas kosong, misalnya, yang digunakan sebagai tempat menulis, juga dinamakan dengan buku. Di luar makna ini, buku memiliki makna yang lain, tapi tidak terkait dengan tulis-menulis yang menjadi tujuan dari kolom hari ini.
Wikipedia mengaitkan buku dengan tulisan atau mengandung tulisan. Wikipedia ingin membedakan dalam konsep yang umum sebagaimana digunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dan dalam konteks ini, buku terkait dengan kertas atau media lain sebagai tempat menulis, seperti potongan kayu atau potongan gading –tentu saja termasuk kertas.
Jika menelusuri sejarah kebudayaan Islam, misalnya, media untuk menulis juga digunakan pelepah kurma dan tulang. Media sangat penting untuk merekam apa yang ingin ditulis.
Saya ingin melihat keberadaan buku dalam domain yang lebih luas. Buku, secara langsung atau tidak, terkait dengan kertas dan sejarah kelahirannya, serta munculnya mesin cetak yang menjadi kekuatan utama dalam buku era modern –yang kini berganti lagi ke bentuk yang baru, antara lain digital.
Kertas bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Ada proses tertentu. Artikel Kompas (12/11/2020), “Lahirnya Kerta yang Mengubah Peradaban”, ditulis Dinda Savira Oktavia, menyebutkan lahirnya kertas diperkirakan masa kekaisaran China tahun 105 M. Namun demikian, kata ‘paper” atau kertas, berasal dari nama tanaman alang-alang papyrus. Tanaman ini tumbuh subut di sepanjang Sungai Nil Mesir. Pada zaman kuno, lapisan berserat dari tanaman ini yang terdapat pada batang dihilangkan, lalu ditempatkan berdampingan, kemudia disilangkan pada sudut siku-siku dengan serangkaian lapisan yang diatur serupa. Hasilnya membentuk lembasan yang dibasahi dan ditekan. Setelah mengering, getah tanaman menjadi perekat. Gambaran ini dikutip dari Encyclopedia Britannica (Oktavia, 2020).
Selain kertas, ada revolusi mesin cetak. Dalam artikel Kompas lainnya, “Bagaimana Gutenberg Menemukan Mesin Cetak”, ditulis Widya Lestari Ningsih dan Nibras Nada Nailufar (13/10/2021), menyebut mesin cetak pertama beroperasi yang dibuat Johannes Gutenberg pada tahun 1450. Ia mulai bereksperimen sejak 1438, ketika tinggal di Strasbourg (Perancis). Cetakan dari balok yang ditekan ke lembaran kertas. Sepuluh tahun kemudian, ia memindahkan bengkel ke Mainz (Jerman), kota kelahirannya. Dalam dua tahun itulah ia berhasil merakit mesin cetak, dengan membuat cetakan dari campuran logam untuk menghasilkan model mesin cetak bergerak.
Membutuhkan lima abad untuk mendapatkan perkembangan mesin cetak yang signifikan. Pada abad ke-20 baru muncul teknologi offset, lalu tidak butuh satu abad, perkembangan mesin cetak dan printer digital muncul. Perkembangan cetak inilah yang berpengaruh ke buku.
Buku dalam makna yang disebutkan di atas, memiliki ragam jenis. Ada dua kategori utama dari buku, yakni fiksi atau nonfiksi. Dari dua kategori ini terbagi ke dalam berbagai jenis yang dikenal hingga sekarang.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.