Saya punya ingatan tentang titip-menitip. Dulu, dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan menengah, kerap terjadi soal titipan. Anak-anak para elite dengan mudah masuk ke sekolah elite, walau kualitasnya biasa-biasa saja. Justru anak-anak cerdas, sulit menembus jika tanpa tahu proses dan mekanisme bagaimana menembus lembaga-lembaga pendidikan yang elite itu. Pada sisi yang lain, elite ini dibarengi dengan penempatan orang-orang yang bisa beradaptasi dengan kebutuhan elite. Saat masih berlangsung Ujian Akhir Nasional (UAN) –kabarnya periode ini akan kembali ke pola yang sama—masing-masing sekolah harus memasang target kelulusan. Para pengambil kebijakan, kerap memberi janji-janji untuk mempromosi pimpinan sekolah yang memiliki angka kelulusan siswa tinggi dalam ujiannya.
Padahal disadari betul bahwa janji-janji di atas akan berbahaya ketika banyak pimpinan sekolah, ketika berusaha mengejar target tertentu, melupakan aspek yang lain semisal kejujuran. Betapa kita tidak lagi terkejut saat mengetahui dari berbagai berita suratkabar tentang adanya perilaku saling membantu dalam pelaksanaan ujian nasional. Proses bantu-membantu kemudian ada yang dianggap wajar, karena sebagian orang berfikir angka yang dipatok UAN tidak bisa dicapai oleh semua sekolah –karena berbagai alasan masing-masing. Di sinilah, menurut saya, kesenjangan kemampuan akan terlihat dengan sendirinya.
Rasanya tidak mungkin angka kelulusan mata pelajaran yang ditetapkan bisa disamaratakan antara sekolah di kota dengan sekolah di gampong. Sekolah di kota lumayan banyak alat bantu dalam proses belajar-mengajar. Bandingkan dengan sekolah-sekolah di kampung, yang jangankan untuk menggunakan alat-alat bantu proses belajar-mengajar, barangkali melihat saja tidak pernah.
Sekolah di kota sangat dekat dengan berbagai kebutuhan buku. Akses ke toko buku dekat. Berbagai pustaka tersedia. Sarana pendidikan banyak. Lalu bagaimana dengan sekolah yang di kampung? Buku-buku wajib yang seharusnya dibaca oleh seluruh siswa, tak jarang hanya dimiliki oleh guru yang memegang mata pelajaran semata.
Pengalaman saya mengunjungi sejumlah pinggir, merasakan aroma yang berbeda. Fasilitas dan layanan yang berbeda, plus sumber daya yang terbatas. Saya tidak tahu, apakah sekarang, dinas memiliki data sekolah-sekolah yang tidak pernah memenangkan kompetisi apapun. Jika pernah, barangkali ada kebijakan yang bisa diafirmasi ke sana. Semakin unggul sekolah, semakin banyak alumni unggul, hal itu akan berpengaruh kepada sekolah. Hal itu akan terawat dan di sisi lain, yang tidak unggul pun berkemungkinan akan terawat ketidakunggulannya.
Sampai saat ini, saya masih berpikir bahwa siswa-siswa yang berasal dari sekolah tidak disebut maju atau unggul (dari kampung-kampung) dan bisa lulus tes masuk perguruan tinggi, maka itulah sebenarnya keunggulan yang paling unggul.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.