Hal yang saya takutkan saat berbicara pendidikan adalah kita tahu adanya kesenjangan dalam berbagai rupa, namun kita membiarkannya dengan seksama dan memberi ragam alasan. Satu alasan yang paling sering disebut adalah anggaran. Untuk menghapus kesenjangan, dibilang anggaran selalu kurang, padahal konstitusi menegaskan 20 persen minimal harus disediakan untuk pendidikan. Hal yang kronis lain, ketiadaan anggaran untuk menghapus kesenjangan, namun para pengelolanya mendapat berlapis tunjangan.
Akhir-akhir ini saya mendapatkan informasi semuanya diserahkan kepada masing-masing sekolah untuk berinovasi –suatu istilah yang bagus, namun lucu. Sekolah seperti diminta berjalan sendiri apa adanya. Apalagi pada lokasi-lokasi yang sudah saya sebutkan, di pinggir-pinggir, nyaris tidak mendapatkan kualitas yang baik.
Saya sangat yakin, berbagai persoalan di atas, telah dipikirkan oleh pengambil kebijakan. Berbagai tawaran pikiran, juga tidak dimaksudkan untuk para pengambil kebijakan saja. Saya yakin, pengambil kebijakan tidak akan mampu berjalan sendiri dalam menyukseskan berbagai program pendidikan. Sebagai catatan, walau tidak mampu berjalan sendiri, jangan membiarkan sekolah-sekolah juga berjalan sendiri-sendiri.
Mengapa tawaran ini harus ada? Menurut saya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas. Pendidikan juga berkaitan dengan semangat. Yang saya gelisahkan adalah ketika semangat ini akan berkurang dari siswa yang sekolah di tempat yang sedikit fasilitasnya.
Apakah kita pernah menyaksikan ada anak-anak sekolah yang sudah pulang ke rumah di luar jam yang sudah ditentukan? Pada siswa beralasan sudah tidak penting belajar dengan serius, toh pada akhirnya mereka bisa menikmati hasil yang diinginkan –sebagimana pengalaman senior yang mereka lihat dalam babak-babak akhir pendidikan di sekolah mereka.
Saya takut, ketika berbicara semangat ini, saat anak-anak mulai tidak peduli dengan tekad belajarnya. Ia sudah merasa tidak butuh belajar. Ia berpikir belajar hanya soal nilai yang dibutuhkan hanya untuk menyelesaikannya dari sekolahnya. Kadang-kadang sesederhana itu yang mereka pikirkan. Hal ini, tentu harus diingatkan, apalagi dengan kondisi Aceh yang menurut saya masih ada catatan kaki. Generasi yang dibangun dari puing konflik dan bencana masih menjadi alasan serius membutuhkan perhatian.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.