Sengaja saya sebut proyek indeksasi karena secara sembunyi maupun terang-terangan, kampus-kampus di negara kita menggarap ini sebagai potensi dalam pencapaian posisi tersebut. Bahkan kampus yang memiliki banyak uang, akan dihargai pada dosennya dengan meriah jika mampu mencapai karya dalam jurnal kualitas tertentu. Namanya insentif jurnal. Namun sedikit kampus, yang tidak cukup modal, hanya memberi harga insentif ala kadarnya. Bahkan seharga hanya cukup untuk membiayai publikasi artikel itu sendiri.
Saya kira salah satu yang mesti dicapai –dan ini selalu dipermasalahkan para dosen—saat mengurus fungsionalnya. Selama ini, dosen pada jabatan akademik tertentu, diwajibkan memiliki publikasi pada jurnal dengan strata tertentu. Berkala ilmiah dengan indeks yang sudah ditentukan. Untuk berkala ilmiah internasional yang dikenal antara lain berindeks Directory of Open Access Journals (DOAJ), Scopus, Thomson Reuters, dan sejumlah perusahaan seperti Elsevier, Springer, Wiley Online Library, dan Taylor & Francis. Masing-masing memiliki daya operasional tersendiri.
Saya pernah berpengalaman dalam mengajukan indeks DOAJ saat melakukan indeksasi jurnal kanun (http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/kanun). Jurnal kami sudah mendapatkan indeks ini sejak 2015. DOAJ (https://doaj.org/) pada dasarnya sebagai tempat penyedia akses ke berbagai jurnal dan bisa diakses umum. Tersedia sekitar tujuh juta artikel pada lembaga ini. Berbeda dengan scopus (scopus.com dan https://www.scimagojr.com/), kita bisa mengakses dan menemukan berbagai bidang jurnal dan tempat terbitnya. Kini lebih dari lima ribu penerbit dari hampir 250 negara ada di dalam ruang ini. Kemudian Thomson Reuters. Selain itu Elsevier (https://www.elsevier.com/), Springer (https://www.springer.com/), Wiley Online Library (https://onlinelibrary.wiley.com/), dan Taylor & Francis (https://taylorandfrancis.com).
Berangkat dari data ini, ruang publikasi tersedia begitu luas. Tinggal dipilih sesuai dengan bidang ilmu dan isu kajian. Untuk Indonesia sendiri, semuanya sudah dirangkum dalam Sinta (science and technology index) yang memiliki skema dan fitur terkait database dan menentukan peringkat. Di negara kita, indeksasi jurnal itulah yang diperkenalkan melalui sinta (https://sinta.kemdikbud.go.id/). Jurnal yang akan terindeks harus dimulai dengan proses pendaftaran akreditasi (Arjuna, akreditasi jurnal nasional) melalui portal http://arjuna.kemdikbud.go.id/. Panduannya dalam diunduh pada https://arjuna.kemdikbud.go.id/about/guidelines.
Kementerian juga mengembangkan Id Menulis: (dibaca IDE MENULIS) merupakan sistem pembelajaran elektronik yang dikelola Kemenristekdikti untuk meningkatkan diversifikasi penulis dan juga meningkatkan kualitas karya ilmiah melalui proses review dan bimbingan secara intensif dan termonitor. Ada RAMA Repository: merupakan repositori nasional laporan hasil penelitian baik berupa skripsi, tugas akhir, proyek mahasiswa (diploma), tesis (S2), disertasi(S3) ataupun laporan penelitian dosen / peneliti yang bukan merupakan publikasi di jurnal, konferensi maupun buku yang diintegrasikan dari Repositori Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian di Indonesia.
Kementerian juga mengembangan ANJANI (Anjungan Integritas Akademik Indonesia): merupakan portal yang disiapkan oleh Kemenristek/BRIN sebagai sarana promosi dalam Pembinaan, Evaluasi dan Pengukuran, Klasifikasi dan Pelanggaran serta sanksi yang diberikan untuk pelanggar integritas Akademik. Selain itu, ANJANI menyiapkan sarana perangkat lunak untuk mendeteksi kesamaan Karya Ilmiah sehingga tingkat pengukuran kesamaan (similarity) dan/atau plagiarism dapat diukur. Sumber dokumen untuk Anjani diperoleh dari integrasi repositori perguran tinggi dan lembaga litbang dalam portal Rama, integrasi jurnal elektronik di Indonesia dalam portal Garuda dan Integrasi kekayaan intelektual peneliti di Indonesia dalam portal SINTA.
Sayangnya semua harus bekerja keras ketika even politik datang. Saat pemerintahan baru dibentuk, sampai pada nama lembaga juga sering berubah. Kita belum bisa sangat konsisten untuk hal ini, masih sesuai selera pada masing-masing pencapai kekuatan kuasa.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.