Ada banyak cerita ketika berurusan dengan Scopus. Termasuk syarat penyelesaian doktoral, yang dulu saya tempuh, sesungguhnya mulai ditentukan. Memang tidak semua kampus menerapkan dari awal. Kenyataannya hingga sekarang pun, masih kampus yang memberi kelonggaran. Namun dari pengalaman saya, hal ini harus dicapai oleh mahasiswa. Begitulah, ketika sejak mulai kuliah doktoral, kami sudah mulai berpikir jurnal mana yang akan ditembus. Jika dipersiapkan dari awal, bukan hal yang sangat berat –walau tak bisa juga diklaim sebagai hal yang ringan. Rata-rata, untuk kepentingan syarat selesai studi, bisa saja hanya dengan Q4. Bahkan ada yang menentukan, artikel prosiding pun boleh, asal terindeks Scopus.
Sebenarnya Scopus itu basis data dan sitasi internasional untuk literatur ilmiah bereputasi yang dikelola Elsevier. Yang diindeks tidak terbatas pada artikel jurnal, melainkan bisa artikel prosiding –kegiatan yang dilahirkan dari suatu konferensi ilmiah. Bisa juga dalam bentuk buku dan hak paten. Dalam lingkungan kampus, dianggap jurnal yang berindeks pada Scopus, dipandang berkualitas dan kredibel. Posisi ini ditentukan oleh proses seleksi dan di dalamnya termasuk peer-review yang ketat, yang menjadi alasan indeks ini menjadi pilihan.
Berdasarkan data yang ada, Scopus sudah mengindeks lebih dari 24 ribu artikel jurnal ilmiah, yang diterbitkan lebih dari lima ribu publisher di seluruh dunia. Seiring dengan perkembangan, semakin banyak publisher yang memberi akses secara gratis. Hanya skema ada yang diterapkan berbeda. Misalnya, ada penulis juga yang menikmati gratis ini, alias tidak membahas ketika artikelnya dipublis. Namun ada juga penulis yang harus membayar, termasuk membayar harga akses dari para pembaca.
Berdasarkan cerita para pengelola jurnal yang sudah tembus indeks Scopus, mereka umumnya diperiksa sejumlah hal yang menjadi ukuran mereka tembus. Pertama soal topik yang sesuai, dalam makna berfokus pada topik yang sesuai dengan bidang ilmu yang relevan –hal ini terwakili dalam isi artikel di dalamnya. Kedua, menggunakan bahasa yang standar, yakni salah satu bahasa internasional sebagai prasyarat bagi pembacara internasional. Ketiga, penekanan pada kabruan yang tinggi, karena kebaruan ini juga menghindari atau dampak dari plagiarism. Keempat, ketepatan waktu dalam deadline maupun proses pengelolaan (mulai dari submit, proses review, hingga menolak atau publis). Kelima, peran peer-review sangat penting dalam menjaga tulisan-tulisan di dalamnya.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.