Antroposentrisme

Merujuk pada etika entroposentrisme, kita bisa melihat dalam tiga ciri di dalamnya. Pertama, manusia sebagai pusat nilai, sehingga ada anggapan manusia memiliki nilai dan martabat lebih tinggi dibandingkan dengan semua makhluk hidup lainnya yang ada …

Merujuk pada etika entroposentrisme, kita bisa melihat dalam tiga ciri di dalamnya. Pertama, manusia sebagai pusat nilai, sehingga ada anggapan manusia memiliki nilai dan martabat lebih tinggi dibandingkan dengan semua makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Kedua, soal nilai instrumental alam, yang mana semua makhluk hidup dan sumberdaya alam lainnya hanya memiliki nilai karena fungsinya (hanya) untuk kepentingan dan tujuan dari manusia. Ketiga, keterpisahan manusia dan alam. Manusia dipandang sebagai entitas yang terpisah dan lebih unggul dari alam, sehingga alam hanya dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan manusia.

Para ahli dan aktivis lingkungan memiliki penilaian lebih soal cara pandang antroposentris. Cara pandang ini dianggap memiliki saham bagi kondisi lingkungan yang buruk, terutama akibat adanya eksploitasi yang berlebihan karena hanya untuk kepentingan nafsu manusia. Pada saat yang sama, kerusakan parah terhadap lingkungan tidak bisa dihindari.

Kerusakan terhadap alam disebabkan cara pandang yang semacam itu. Kerusakan sebagai dampak negatif dalam posisi yang mana manusia (dalam konteks keberadaan sumberdaya) sebagai serba menentukan untuk membolehkan. Padahal pada kenyataannya apa yang disebut krisis ekologi sebagai dampak negatifnya, yakni mengabaikan hak dan keberadaan alam. Krisis ekologi dan kerusakan lingkungan yang terjadi dimana-mana, disebabkan oleh bagaimana posisi dan cara pandang manusia ini.

Selain itu, eksploitasi sumberdaya alam pada dasarnya sebagai dorongan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang –termasuk dampak bagi manusia itu sendiri. Dampak lain yang harus dipertimbangkan termasuk untuk makhluk lainnya. Dalam hal inilah, egois dalam pemanfaatan sumberdaya alam harus dihindari oleh manusia dalam melakukan pemanfaatan terhadap sumberdaya.

Atas dasar itulah, antroponsentrisme ini ditolak oleh cara pandang yang lain, seperti biosentrisme maupun ekosentrisme. Jika antroponsentrisme memberi posisi penting pada manusia dan kepentingannya, maka dalam cara pandang biosentrisme menekankan perhatian pada semua bentuk dari kehidupan dan mengakui nilai intrinsic semua makhluk hidup. Demikian juga dengan ekosentrisme yang memandang semua manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar dan mengakui nilai intrinsic seluruh komunitas ekologis, bukan hanya makhluk hidup (Keraf, 2010).

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment