Diskursus tentang pentingnya pengelolaan lingkungan hidup, sudah muncul sejak lama. Setelah Perang Dunia ke-2 mereda, berbagai dampak terhadap lingkungan hidup dirasa sangat serius. Sebagai pola pikir, konsep ini sudah muncul sejak era para filsuf yang menguraikan pentingnya cara posisi mendudukkan manusia ketika berhadapan dengan makhluk lain di bumi.
Era paling kongkret adalah perlawanan terhadap proses industrialisasi yang muncul setelah Revolusi Industri. Tarik-menarik antara sejumlah kutub dan kiblat pemikiran dunia, menjadikan ragam isu ini kian rumit. Revolusi industri sendiri melanda masyarakat Eropa pada abad ke-19. Revolusi harus dilihat dalam satu rangkaian perkembangan yang satu sama lain saling berkaitan. Dengan demikian tidak berhenti melihat sebagai kejadian tunggal. Puncaknya adalah ada transformasi dunia Barat dari bercorak pertanian menjadi sistem industri (Ritzer & Goodman, 2005).
Dampak dari era Revolusi Industri sangat mendasar. Era ini berkembang pesat pabrik-pabrik berkat adanya kemajuan teknologi. Kemudian birokrasi ekonomi berskala besar muncul untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan industri dan sistem ekonomi kapitalis. Dan yang paling penting, harapan utama dari sistem ekonomi kapitalis ini adalah sebuah pasar bebas tempat memperjualbelikan berbagai produk industri (Ritzer & Goodman, 2005).
Lebih jauh sesungguhnya kapitalisme ini dapat dilihat sebagai salah satu model pembangunan. Selain sosialisme, model pembangunan kapitalisme pada dasarnya ditawarkan termasuk untuk masyarakat Dunia Ketiga. Pesan yang disebut bahwa dengan model ini akan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat pada negara-negara Dunia Ketiga (Samuel, 2012).
Secara umum, model pembangunan kapitalisme sangat dilandaskan pada ide pertumbuhan, khususnya pertumbuhan ekonomi. Anggapannya bahwa pertumbuhan yang tinggi akan menjamin pencapaian masyarakat yang dimimpikan –kualitas hidup masyarakat yang lebih baik (Samuel, 2012).
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.