Ada hal yang menakutkan dalam ruang terjadi, ketika kekerasan seksual banyak dilakukan oleh orang dekat, maka hampir semua tempat tidak ada lagi yang aman. Pertanyannya, bagaimana seseorang bisa muncul birahi dan melakukan hal-hal di luar akan sehat terhadap orang-orang dekat yang harusnya dilindungi?
Dengan kasus-kasus kekerasan seksual yang semakin terbuka, bagi saya terbetik satu pertanyaan batin yang sangat penting. Bagaimana bisa, misalnya seorang ayah atau abang bisa bernafsu pada anak atau adiknya? Bagaimana mungkin seorang ibu, memiliki nafsu yang sama dengan anaknya? Namun hal ini terjadi dan bukan mimpi. Bukan pula terjadi sekali. Hal semacam ini sudah terjadi berulang-ulang di nanggroe kita.
Sekedar catatan bahwa kebutuhan seks manusia tidak bisa dihindari. Kemudian proses pelembagaan untuk menampung kebutuhan ini, dilaksanakan baik dengan agama, atau ada sejumlah pihak melalui administrasi. Penyaluran seksual seharusnya dilakukan terhadap orang-orang yang memang secara rasa rasional terjadi. Dalam kamus manusia, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sunnatullah. Proses untuk pelegalan itu tersedia jalan tersendiri.
Fenomena ketertarikan terhadap orang-orang yang memiliki hubungan darah, jangan-jangan sebagai bentuk sudah membesarnya realitas mati rasa pada manusia. Mati rasa ini tidak hanya terkait dengan kasus kekerasan dan pelecehan seksual. Lebih jauh sejumlah kasus kekerasan terhadap orang tua yang dilakukan anak hanya gara-gara hal sepele (misalnya kasus di salah satu kabupaten, anak mengasari ibunya karena tidak mampu memberikan uang), atau kekerasan orang tua terhadap anak.
Saya tidak tahu persis, seberapa seriuskan kita memosisikan keadaan semacam ini. Seharusnya memang ini problem serius yang harus cepat direspons secara menyeluruh dan proses penanganan dan penanggulangan secara kompleks. Jangan pernah menganggap sederhana untuk masalah yang sangat serius ini. Makanya jangan pernah main-main untuk melakukan penanggulangan atas realitas yang semakin menggelisahkan kita –sebelum semuanya terlambat dan kita tidak bisa melakukan apa-apa.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.