Memperbaiki Kebijakan Publik

Bagaimana pun kebijakan dari pemangku kepentingan sangat berpengaruh terhadap pengelolaan lingkungan dan SDA yang lebih baik. Pengelolaan SDA yang salah –disengaja atau tidak disadari—akan berakibat fatal tidak hanya bagi lingkungan, melainkan juga bagi orang-orang yang …

Bagaimana pun kebijakan dari pemangku kepentingan sangat berpengaruh terhadap pengelolaan lingkungan dan SDA yang lebih baik. Pengelolaan SDA yang salah –disengaja atau tidak disadari—akan berakibat fatal tidak hanya bagi lingkungan, melainkan juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berbicara soal kebijakan, hal utama dilakukan adalah serangkaian proses nalar terhadap hukum. Pada lapis pertama akan dilihat bagaimana bangunan hukum yang memandunya sebagai dasar kebijakan. Pada lapis ini, cara pandang orang berkemungkinan sama. Berbeda dengan lapis yang kedua, ketika dasar hukum ini ditafsir secara berbeda oleh mereka yang memang kebijakan. Lapis ketiga, perbedaan yang terjadi dalam ranah pelaksanaan kebijakan.

Ketiga lapis yang disebut di atas, kerap ditemui secara berbeda dari masing-masing pemangku kepentingan yang ada. Saat berhadapan dengan kepentingan, ada upaya orang untuk menegakkan apa yang disebut sebagai benang basah. Apalagi dalam kondisi kebijakan yang sudah hadir dan kongkret dan ternyata merugikan banyak pihak.

Atas dasar itulah, tidak semua orang sepakat jika disebut bahwa bencana yang terjadi, tidak hanya digolongkan sebagai bencana alam. Dalam konsep hukum, ada saja bencana yang diundang oleh kebijakan manusia. Kegagalan kebijakan dalam memanajemeni alam akan berimplikasi kepada beban sosial yang tidak sedikit nilainya. Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 41, mengingatkan kita bahwa manusialah yang menyebabkan kerusakan di darat dan di laut.

Entah kita semua sepakat, bahwa pilu bencana yang terjadi, terutama banjir, longsor, dan banjir bandang, adalah satu mata rantai kesalahan manusia yang seharusnya tidak boleh lagi terulang dimasa mendatang. Sepertinya semua masyarakat kabupaten/kota di negeri kita ini sudah merasakan bencana alam yang disebabkan perilaku manusia dengan membabat hutan.

Sudah waktunya, kita tidak memosisikan alam sebagai sesuatu yang sekedar untuk dieksploitasi dan dimanfaatkan. Cara pandang terhadap alam akan menentukan bagaimana alam itu diperlakukan oleh manusia. Jika alam dipandang hanya sebagai alat pemuas nafsu manusia, maka apapun bisa terjadi yang akhirnya berdampak pada kerusakan alam.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment