Semalam sampai jam 1, saya bertukar kabar dengan adik saya di kampung. Bahkan sampai jam 3, terbangun lagi, menerima foto kondisi banjir di rumah. Foto dikirim jam 2 lewat. Jadi mereka belum tidur pada jam itu. Termasuk difoto rumah keluarga abang saya di pinggir jalan utama kampung, disinggahi banyak warga yang rumahnya banjir. Hanya saja, air itu terasa lebih tenang dibandingkan banjir sebelumnya yang arusnya kencang. Deras. Beda lainnya pada lumpur yang lebih kental pada banjir pertama. Banjir ini lebih cair.
Saya kira di kampung, sudah terbiasa, orang-orang akan singgah di tempat atau rumah yang tidak terkena banjir. Biasanya dilokasi seperti itu, untuk beberapa hari, akan dibuat dapur umum. Ada inisiatif di kampung, dibuat sedikit dapur, untuk memasak memenuhi kebutuhan warga yang meninggalkan rumah. Namun tidak semua warga bertahan di sana. Walau dalam kondisi lumpur, sebagian warga akan pulang. Alasan mereka, jika tidak pulang dan membersihkan lumpur, sampai kapan pun tidak bersih. Sebenarnya yang tinggal di lokasi, buka tidak mau membersihkan. Air yang naik belum normal.
Banjir berasal dari tumpukan air akibat hujan lebat dari sore. Air sungai kembali naik. Saat tengah malam, air sudah setinggi anak tangga terakhir rumah kakak saya. Kemarin ibu sempat minta pulang ke rumah, tadi dibawa lagi ke rumah cucunya. Ibu kepingin pulang ke rumah, tak diberikan. Baru kemarin dibawa pulang, karena tak henti meminta, dan malamnya sudah banjir lagi. Akhirnya ibu kembali ke rumah cucunya.
Sejumlah grup yang saya pantau juga ada diskusi masalah sungai yang kembali meluap. Lengkap dengan videonya, yang diambil oleh orang-orang yang ada di masing-masing tempat. Misalnya jalan rel Meureudu-Ulim, yang sudah penuh air. Mobil yang lewat harus berhati-hati, karena kiri dan kanan jalan itu adalah hamparan sawah. Ada juga yang kirim kondisi sungai Batee Iliek, yang derasnya minta ampun. Dengan air coklat kental.
Orang kampung saya tahu, di atas sana, ada lahan yang sepertinya bermasalah. Jika ada awan hitam di atas sana, orang kampung tinggal menunggu kiriman air lumpurnya ke kampung mereka. Selalu begitu. Hampir tidak ada penahan dan penyaring. Orang tua bisa mempredeksi, setelah terlihat agak lebat di ujung saja, dalam beberapa waktu, mereka sudah melihat hasilnya. Sesederhana itu. Makanya mereka juga mengerti secara sederhana.
Prediksi orang kampung, tentu berbeda dengan cara kerja penegak hukum. Ketika melihat ada gelondongan yang terbawa sungai, penegak hukum terlebih dahulu bicara akan menelusuri itu kayu siapa. Bahkan orang kampung kadang tanya, mengapa serumit itu penegakannya hukum bagi perusak hutan?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.