Ahad malam, praktis saya hanya tidur dua jam saja. Saat subuh, saya WA kemenakan yang tinggal di Banda Aceh. Saya ajak ia pulang ke kampung. Ia mau. Pagi-paginya, saya ke pasar pagi untuk membeli ala kadar untuk dibawa ke kampung. Harga beras yang belum normal. Telur yang harganya masih meroket. Sejumlah kebutuhan pokok yang harganya melangit.
Saya sudah tiga pulang ke kampung. Sejumlah jenis barang yang mau saya bawa pulang, harganya belum normal. Harga paling tinggi, tentu saat awal banjir. Hari kedua, saya dan istri memutuskan untuk pulang, ke pasar. Banyak pintu toko yang tertutup rapat. Tidak tahu alasannya. Pikiran positifnya, barangkali mereka juga pulang kampung, karena bisa jadi ada kerabatnya yang menjadi korban. Pikiran negatif, mereka tidak buka dulu, sambil menunggu kondisi pembeli.
Sejumlah toko yang saya singgah, waktu itu, dibuka, namun dengan harga yang tidak biasa. Bagaimana naik, sedangkan banjir baru terjadi. Jika dibilang ada banyak permintaan, padahal barang baru pasti belum masuk. Itulah, kadang-kadang ada penjual juga yang tidak punya hati. Tidak cukup mengambil untung ala kadarnya. Melebihi itu. Dengan jumlah yang memungkinkan seseorang penimbun, akan mendapatkan pemasukan berlipat-lipat.
Saat saya pulang setelah semalam banjir, ternyata ada masalah dengan bahan bakar kendaraan. Saya belum antre sebelumnya untuk mengisi. Setelah dari pasar, saya berkeliling sejumlah SPBU untuk mendapatkan bahan bakar. Pertamax yang sering saya gunakan, tidak tersedia rata-rata SPBU. Namun di Banda Aceh, saya mendapatkan beberapa liter.
Kami memiliki naik tol. Saat menjelang pintu di Seulawah, ternyata hari pertama dibuka untuk lintasan Banda Aceh hingga Padang Tiji. Kami masuk dan gratis. Dengan jarak tempuh yang berkurang drastis dan tidak ada naik-turun perbukitan seperti jalan biasa. Kami keluar jalan tol, namun mendapatkan kondisi ban bocor. Setelah menempel, kami kembali mencari bahan bakar. Ternyata masih ada SPBU di Sigli yang menerapkan barcode untuk jenis BBM subsidi. Walau ada SE Gubernur Aceh untuk itu.
Saya lihat orang antre gas di sejumlah tempat. SPBU jembatan, Kota Sigli, kayaknya orang sekampung bertumpuk di sana untuk antre gas. Di kampung saya, gas yang masuk hanya 130 unit ukuran 3 kg, sedangkan orang yang menunggu bejibun. Untuk urusan seperti ini, pimpinan kampung yang harus pasang badan.
Begitulah kondisi, kadang-kadang apa yang kita harapkan sederhana, dalam realitasnya proses tidak sederhana. Orang-orang di daerah bencana, saya kira mendapatkan pengalaman yang tidak sederhana. Mereka menghadapinya. Tidak ada pilihan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.