Menteri dan Janji

Saya tidak tahu persis, mengapa presiden memilih berkunjung ke ujung jembatan Juli, Bireuen. Saya sebagai warga berharap presiden ke wilayah tengah Aceh –yang di sana ada lahan yang dimiliki—atau wilayah Aceh Tamiang –suatu kawasan yang …

Saya tidak tahu persis, mengapa presiden memilih berkunjung ke ujung jembatan Juli, Bireuen. Saya sebagai warga berharap presiden ke wilayah tengah Aceh –yang di sana ada lahan yang dimiliki—atau wilayah Aceh Tamiang –suatu kawasan yang menyeramkan hingga menjelang dua minggu bencana. Dua kawasan itu, harusnya menjadi perhatian lebih mengingat kerumitan keduanya tampak pascabencana. Keuntungan Aceh Tamiang, karena sudah bisa dilalui jalan darat dari Sumatera Utara. Sedangkan Bener Meriah dan Aceh Tengah, aksesnya terputus. Dampaknya sangat meresahkan, sekaligus menyesakkan: mereka kesulitan bahan makanan dan bahan bakar. Sebagian mereka memilih jalan kaki ke Aceh Utara untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan.

Seorang kolega saya terjebak tujuh hari di Aceh Taming. Maka posisi kabupaten ini, sepertinya harus dicatat tebal. Daerah ini, lama tidak tersentuh. Relawan tidak bisa langsung masuk, karena sejumlah kawasan menuju ke sana masih tergenang air. Kolega saya, satu hari menjelang hujan lebat, berangkat ke kampus Darussalam, dari Binjai. Sesampai dalam wilayah Aceh Tamiang, ternyata sejumlah pohon sudah terlebih dahulu roboh akibat angin kencang. Mereka akhir terjebak: tidak bisa balik ke Medan, tidak bisa pula melanjutkan ke Kota Langsa. Subuh hari itu, ia berhadapan dengan banjir yang datang. Ia selamat karena dari terminal, menuju satu bukit.

Bencana, harusnya selalu menjadi catatan. Para petinggi Republik pasti tahu apa saja yang bisa menyebabkan bencana. Dengan demikian, mereka juga paham betul apa yang harusnya dilakukan. Realitasnya berbeda. Walau paham dan sadar, aktivitas yang berpotensi bencana, kebijakan yang mengundang bencana, sesuatu yang sudah dipahami akan mendatangkan korban, dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemberian izin serampangan, tukar-guling tanah dari hutan untuk –terutama sawit. Negara ini, akhirnya seperti republik sawit, yang para orang-orang yang mengelolanya, juga memiliki kebun-kebun sawit.

Apa yang terjadi menjelang akhir November, saya kira sesuatu yang bisa diduga dan sudah berulang. Tapi ibarat keledai yang terjerumus dalam lubang yang sama. Dampak fasilitas menjadi sangat serius. Robohnya sejumlah tiang listrik, menyebabkan sebagian besar Aceh gelap-gelita. Tetapi menteri, sepertinya santai-santai saja. Tidak peradaan bersalah, apalagi merasa malu. Kemana-mana masih bisa tersenyum dan tertawa. Masih bisa banyak berjanji, dan ketika tidak ditepati, juga tidak merasa bersalah –apalagi malu.

Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami: dosa-dosa kepada-Mu maupun dosa-dosa sosial. Kami serahkan semuanya ke mahkamah-Mu.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment