Anak-anak Sinyal

Sepanjang dua minggu ini, saya merasa gelisah dengan anak-anak kita. Sebagian mereka yang lahir sebagai generasi internet dan kemana-mana selalu sibuk dengan sinyal. Berbagai macam cara dilakukan untuk mencari hal tersebut. Kepentingan berbagai macam. Ada …

Sepanjang dua minggu ini, saya merasa gelisah dengan anak-anak kita. Sebagian mereka yang lahir sebagai generasi internet dan kemana-mana selalu sibuk dengan sinyal. Berbagai macam cara dilakukan untuk mencari hal tersebut. Kepentingan berbagai macam. Ada yang menjaga agar selalu alat komunikasinya bisa aktif. Namun tidak sedikit, yang berurusan dengan tugas-tugas pendidikan. Apalagi dalam dua minggu setelah bencana, para mahasiswa berhadapan dengan momentum ujian akhir semester. Kampus sudah meliburkan mereka, dengan kepentingan agar mereka berada di sekitar keluarga yang sebagian anggotanya yang sudah tiada atau hilang. Sebuah kebijakan, tentu saja akan dirasakan oleh mereka yang tidak merasakan apa-apa.

Bencana selalu memberi dampak pada semua orang: bisa langsung atau tidak langsung. Bisa saja tidak merasakan bencana, namun dampak bencana, bisa turut dirasakan. Berhari-hari harus antre untuk mendapatkan bahan bakar kendaraan, adalah contoh salah satunya. Di kawasan bencana Aceh, kendaraan mengular berkilometer untuk antre berjam-jam agar mendapatkan beberapa liter bahan bakar. Dengan jumlahnya yang terbatas, dibutuhkan oleh semua orang. Hal yang sama untuk mendapatkan gas atau sejumlah kebutuhan pokok,

Anak-anak internet juga harus mengantre aliran listrik yang sebagian terputus total dari awal. Sebagian terputus ditengah jalan, karena ketersediaan arus yang tidak mencukupi untuk semua daerah, akhirnya digilir. Ketika dicoba untuk disambungkan kembali dengan listrik Sumatera, akhir sesuatu terjadi yang menyebabkan mati total. Dengan keadaan ini, anak-anak internet juga harus antre menanti dan mencari warung-warung kopi yang menyediakan genset. Mereka harus bawa kabel colokan sendiri agar bisa mengakses sumber listrik untuk kepentingan alat komunikasi dan laptopnya. Semua warung yang menyediakan genset, penuh –bahkan sesak. Anak laki-laki dan anak perempuan menyatu dan bercampur baur tidak terkontrol. Warung kopi yang ukurannya terbatas, mereka malah bersesak-sesak tak karuan.

Ada yang ironis, ketika sebagian anak-anak internet itu, lebih mementingkan arus listrik ketimbang menunaikan kewajiban ainnya. Setelah shalat magrib, saya melihat warung-warung kopi tidak berubah jamaahnya –termasuk warung yang terletak tidak jauh dari masjid. Anak-anak siapa yang tidak terkontrol itu? Yang sebagian nyata-nyata tidak menunaikan kewajiban di negeri yang harusnya menjadi contoh bagi pelaksanaan syariat. Siapa yang akan bertanggung jawab untuk kondisi ini –ketika era sepertinya semakin ditentukan oleh pendapatan, ketimbang untuk mengatur moral agama di ruang sosial.

Bagaimana tidak shalat secara terang-terangan bukan hanya soal kewajiban individu. Realitas ini akan berdampak pada generasi lainnya dengan mencontoh dan melakukan hal yang sama –hal ini menjadi kontradiktif dengan ajakan untuk membangun agama di ruang sosial. Ingatlah orang tua, pemilik warung, dan para tetangga, suatu saat akan ditanya apa yang kita lakukan melihat perilaku anak-anak kita.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment