Anak Tidak Shalat, Salah Siapa?

Selama dua minggu sejak bencana, anak-anak muda berkumpul di warung kopi. Tujuannya untuk mencari arus, menambah daya alat komunikasinya. Warung yang memiliki genset, biasanya penuh. Sejumlah warung harus menyediakan kursi tambahan. Disewa kursi-kursi plastik dari …

Selama dua minggu sejak bencana, anak-anak muda berkumpul di warung kopi. Tujuannya untuk mencari arus, menambah daya alat komunikasinya. Warung yang memiliki genset, biasanya penuh. Sejumlah warung harus menyediakan kursi tambahan. Disewa kursi-kursi plastik dari tempat lain, untuk menampung pelanggan yang bertambah drastis. Tidak hanya satu dua warung. Mereka yang menyediakan genset, selalu menjadi pilihan saat sekota ini listrik mati. Mereka duduk berjam-jam. Bisa sehabis makan siang, hingga tengah malam. Sebagian tidak bergerak –mungkin hanya ke toilet. Beberapa kali saya lewat di sejumlah warung kopi, ketika magrib pun, mereka tidak bergerak.

Ada pemilik warung yang sedikit berperasaan, akan mematikan lampu saja. Sedangkan masing-masing anak muda tetap tampak wajahnya dengan cahaya dari alat komunikasi. Ketahuilah, sebagian warung membiarkan saja. Tidak ada lagi yang menegur untuk kondisi semacam ini. Anak-anak muda yang tidak bangun, lantas bagaimana menunaikan kewajiban. Belum lagi anak-anak muda yang pakai celana pendek (puntung), yang sebagian hampir mirip dengan sempak. Bagaimana pula menunaikan kewajiban dengan pakaian yang seperti itu. Laki-laki dan perempuan tidak bergerak, hingga mungkin tengah malam.

Selama dua minggu ini, atau mungkin sebelumnya juga sudah tampak, berpasang-pasangan anak muda seperti tidak lagi ada masalah hingga dini hari. Entah siapa orang tuanya yang membiarkan anak-anaknya berkeliaran hingga larut malam. Atau mungkin itu anak-anak dunia yang tidak memiliki orang tua atau siapa pun yang menegurnya.

kelonggaran ini sebenarnya juga terasa dalam warung-warung yang padat tadi, ketika ada sejumlah anak-anak muda yang iseng tanpa malu-malu meraba teman perempuannya. Teman-teman atau orang sekelilingnya, seperti sudah bukan lagi masalah. Ketika ada seseorang dewasa yang berani menegur, justru mungkin akan tampak aneh. Misalnya, kalau menanyakan, apakah sudah berkeluarga atau belum. Hal yang sama, di atas kendaraan, juga tidak malu-malu dengan sorotan lampu kendaraan lain yang lalu Lalang.

Barangkali memang sudah sampai pada kebijaksaan orang tua masa lalu yang menyebut suatu saat, manusia sudah menyerupai makhluk lain yang tidak punya malu. Ketika birahinya memuncak, binatang jantan akan menggoda betinanya, atau mungkin sebaliknya. Dalam kehidupan mereka, tidak ada masalah yang ditakutkan dan diresahkan. Karena dunia mereka memang tidak memiliki nilai. Saya kira berbeda dengan manusia, yang terbangun dengan proses sosialisasi dan pelembagaan hal-hal yang menuntunnya kepada kehidupan yang bermartabat.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment