Bencana dan Kearifan Lokal

Ada satu spanduk mini diikat pada dinding satu mobil pribadi, bertuliskan kalimat yang menggugah: “meutaloe wareh, gaseh-meugaseh, bila meubila!” Karena sedang di jalan, dan sama-sama berada di wilayah berdampak banjir, mobil ini tidak terkejar. Ada …

Ada satu spanduk mini diikat pada dinding satu mobil pribadi, bertuliskan kalimat yang menggugah: “meutaloe wareh, gaseh-meugaseh, bila meubila!” Karena sedang di jalan, dan sama-sama berada di wilayah berdampak banjir, mobil ini tidak terkejar. Ada dua hal yang ingin sekali saya tahu: siapa yang ada dalam mobil tersebut dan apakah ia tahu maksud dari bunyi spanduk tersebut. Dua-dua pertanyaan itu, bisa saja tidak butuh jawaban.

Spanduk jamak ditempel pemilik mobil yang mengantar bantuan. Dengan berbagai alasan. Ada yang berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan di tempat yang terjangkau, lalu ia menyalurkannya ke pelosok. Banyak organisasi dan komunitas melakukan hal itu, baik di Banda Aceh maupun di kota-kota lain. Termasuk di tempat yang memiliki bandar udara. Sejumlah kawasan bencana, tidak bisa ditempuh lewat jalur darat yang kondisi jalannya hancur. Ada yang memilih alternatif, dengan jalur laut atau jalur udara.

Semangat untuk saling membantu sangat tinggi. Orang-orang dari berbagai daerah lain di Indonesia –hingga Malaysia—terus berdatangan dengan segenap kesiapannya. Mereka yang masuk ke Aceh Tamiang, misalnya, sudah menyadari ada ragam hambatan yang akan ditemui di lapangan. Namun mereka terus melangkah dengan harapan bisa membantu mereka yang menjadi korban. Apalagi wilayah Aceh Tamiang, awalnya sangat sulit untuk ditembus. Wilayah terdampak sangat parah, walau jalur darat bisa ditempuh melalui Sumatera Utara –Kabupaten Aceh Tamiang berbatasan dengan Kabupaten Langkat (Sumatera Utara).

Banyak organisasi di Banda Aceh yang bergerak secara masif. Termasuk komunitas yang bergerak dengan segenap energi. Orang-orang yang membuka isolasi, menggunakan kendaraan-kendaraan khusus, hingga bisa mencapai tempat yang sulit. Waktu itu ada masalah lain yang menjadi kendala, yakni bahan bakar tidak mudah diperoleh. Sehingga kendaraan yang khusus pun, tidak bisa menjelajah semua wilayah dengan pertimbangan bahan bakar. Kendala lainnya, jaringan komunikasi yang terputus, sehingga mereka yang sudah mencapai kawasan tertentu, tidak secara langsung bisa memberi kabar kepada komunitas lainnya.

Apa yang saya lihat pada dinding mobil, merupakan cermin bagaimana orang-orang ingin berusaha mengurangi beban para korban bencana. Tidak semua yang dibantu karena ada garis keluarga. Orang Aceh memiliki dua jalur tali persaudaraan: syedara geneologis dan syedara teritori. Ada yang karena hubungan famili, ada juga yang berdasarkan hubungan kebangsaan hingga hubungan orang-orang yang ada di kampung.

Kearifan lokal ini, bukan hanya milik orang Aceh. Orang Indonesia memiliki kearifan lokal dalam hal membangun rasa persamaan. Lalu muncul semangat lain, dalam wujud gotong royong, yang menggambarkan bagi dari rasa persamaan itu. Semangat ini yang digunakan untuk saling membantu satu sama lain. Satu semangat yang pasti berbasis pada nilai harmoni, dimana menjaga keseimbangan dalam berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan itu sendiri suatu saat pasti akan mengalir ke kita sendiri.

Wujud kearifan lokal ini pun sengat direkam dalam butir-butir Pancasila –dasar sekaligus etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara—yang terkesan sudah mulai ditinggalkan para warga bangsa. Melalui perilaku korup, tidak mengasihi satu sama lain, saling membangun lawan, adalah wujud-wujud bagaimana nilai-nilai Pancasila itu terkeropos.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment