Jalur transportasi sangat vital dalam mempercepat pulih kawasan bencana. Bisa saja lewat darat, laut, maupun udara. Semakin cepat terhubung, akan mempermudah dalam mempercepat pemulihan. Berbagai kebutuhan, akan membantu dalam proses setelah bencana ekologi terjadi. Makanya jalur tranportasi termasuk yang utama.
Bencana ekologis sejak 25 November 2025, masalah transportasi sangat krusial. Setidaknya ada 146 jembatan rusak total –15 diantaranya jembatan nasional. Kawasan yang paling banyak jembatan rusak adalah Kabupaten Bener Meriah. Dengan perbukitan dan banyaknya alur air, ketika banjir dan longsor, ada 165 jembatan di sana rusak.
Jalur utama di darat, umumnya sudah teratasi. Ada sejumlah jembatan yang rusak dan tidak bisa dilewati. Jembatan Meureudu (Pidie Jaya) dan Peusangan (Bireuen) adalah dua jembatan di jalur utama Banda Aceh menuju Medan, dan sebaliknya. Ada jembatan Teupin Mane, Juli (Bireuen) yang terhubung wilayah pesisir dan tengah Aceh. Jembatan ini yang diklaim Kepala Staf Angkatan Darat, ada yang dicuri bautnya.
Ada tiga jembatan yang diselesaikan secara cepat. Jembatan Meureudu sudah bisa dilalui tanggal 12 Desember 2025. Untungnya, wilayah Pidie Jaya ada jalur alternatif yang masih bisa dilalui walau jembatan itu sedang dikerjakan, yakni lewat Kota Meureudu yang menghubung dengan jalan lama –masyarakat menyebut dengan jalan rel karena dulu pinggir jalan itu memang jalur kereta api masa silam.
Setelah itu, Jembatan Teupin Mane sudah bisa dilalui tanggal 14 Desember 2025. Jembatan yang sangat penting memotong wilayah yang terisolasi di wilayah tengah Aceh. Walau jalur ini juga bukan satu-satunya yang bisa ditempuh ke Kawasan tersebut. Ada jalur jalan KKA dari wilayah Aceh Utara menuju Bener Meriah yang rusak parah Ketika bencana, namun berhasil diperbaiki setelah tiga minggu –dengan pola tutup dan buka.
Satu lagi, Jembatan Peusangan Siblah Krueng, yang sudah bisa dilalui dengan skema antre pada tanggal 18 Desember 2025. Namun demikian, jalur di Bireuen pun masih ada alternatif, dengan daya beban yang terbatas, yakni Jembatan Awe Geutah. Untuk mengakses jembatan ini, harus masuk ke kawasan perkampungan hingga tujuh kilometer, dengan kondisi jalan yang sempit. Jembatan ini pun selesai diperbaiki.
Semua jembatan yang dimaksud, Jembatan Bailey, dibangun melalui sinergi Kementerian Pekerjaan Umum dan Kodam Iskandar Muda, dikerjakan oleh prajurit Bataliyon Zipur. Semua jembatan memiliki beban yang sudah ditentukan. Jembatan Bailey ini dikenal dalam mengantisipasi dampak bencana di mana pun. Jembatan rangka baja pra-fabrikasi yang bersifat portabel. Jenis jembatan ini memiliki keunggulan karena proses merakitnya lebih simple. Baja yang digunakan terdiri atas bagian-bagian yang cukup dan dibawa di daerah yang dibutuhkan. Jembatan jenis ini sudah diperkirakan pada berat tertentu.
Jembatan ini pada awalnya dikembangkan oleh militer Inggris sepanjang tahun 1940-1941 saat Perang Dunia II. Jembatan teknis ini diambil Namanya dari Donald Bailey, seorang pegawan negeri sipil pada Jawatan Perang Inggris yang mengajukan pertama kali purwarupa jembatan ini. kemudian konsep jembatan ini digunakan oleh militer seluruh dunia dalam mengantisipasi keadaan infrastruktur.
Indonesia sangat dekat dengan keadaan ini. Kondisi geografis pada ring of fire, militer Indonesia terlibat dominan dalam pemulihan infrastruktur di daerah-daerah bencana.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.