Dunia pendidikan juga banyak yang bernoda –khususnya soal plagiat bahkan order penyusunan tugas akhir mahasiswa. Seperti bisnis hitam lainnya, sepertinya layanan haram ini sangat menjanjikan. Tim-tim yang bekerja untuk itu, pasti memiliki pendapatan yang wah. Tetapi jangan tanya, pendapatan itu halal atau haram. Orang-orang yang memiliki keahlian khusus, tapi dipakai untuk melakukan sesuatu yang dilarang. Tugas akhir mahasiswa yang diposisikan sebagai titik keahlian ilmiah seorang mahasiswa, justru menjadi hancur ketika ia tidak berproses sendiri. Dengan meminta dibuatkan pada orang lain, membuat alat ukur ini menjadi tidak bisa dilaksanakan. Seseorang yang mendapatkan gelar tertentu, karena perilaku ini, menyebabkan gelarnya tidak bisa mencerminkan kemampuan akademisnya.
Saya terpesona dengan kabar buruk dunia fungsional juga punya gejala serupa. Orang-orang yang memiliki keahlian dalam menyusun artikel jurnal ilmiah, tapi digunakan untuk membangun ruang bisnis hitam. Dengan kemampuannya, ada yang digunakan untuk memudahkan orang lain yang membutuhkan artikel ilmiah. Apalagi naik fungsional tertentu, sekarang ini mensyaratkan harus terpenuhi publikasi dari artikel bereputasi. Tentu bukan soal yang rumit, jika seseorang mau berproses. Tetapi juga bukan jalan yang mudah. Selalu ada jalan bagi mereka yang mau berproses. Orang-orang yang tinggal order, mengusulkan jabatan fungsional, lalu disetujui, bisa dibayangkan kemampuan apa yang bisa dinilai dari orang semacam ini.
Bisnis haram ini semakin tumbuh, diam-diam maupun terang-terangan. Sejumlah media pernah mengangkat bagaimana potongan realitas dalam lembaga pendidikan juga ada yang berselimak dengan kondisi buruk ini. Dari kabar angin, saya mendengar order satu artikel ilmiah hingga tembus pada jurnal bereputasi internasional, bisa mencapai 30-40 juta. Jumlah itu, bagi mereka yang ingin mencapai jabatan fungsional tertentu, bisa jadi bukan angka yang tinggi. Ia akan membayangkan hasil yang akan didapat ketika fungsionalnya selesai. Bahkan ada ahli penerima order, yang tampaknya selalu panen saat momentum tertentu tiba. Celakanya, ada yang juga bangga merasa berperan dalam membantu orang lain terkait syaratnya.
Dari kabar angin juga, saya mendengar tarif skripsi, tesis, hingga disertasi di dunia hitam itu terus meningkat. Tarif skripsi bisa mencapai lima juta. Tesis bisa 20 juta. Disertasi bisa 80 hingga 120 juta. Saya tidak tahu siapa yang suatu saat akan membongkar kabar angin ini. Orang-orang yang bekerja secara berkelompok, setelah berhasil diselesaikan, akan berbagi hasil menurut peran. Bukankah sesuatu yang sangat menjanjikan? Dalam kebijakan plagiat, tersedia sanksi begitu keras hanya dengan plagiat. Lantas bagaimana sanksi itu akan berlangsung bagi mereka yang justru belepotan dengan bisnis hitam? Bagaimana pula ketika ada orang-orang penting, yang ternyata gelar pendidikannya didapat dengan proses yang buruk ini?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.