Saya ingin menyentuh nama seorang nama ulama terkenal Aceh, Abdur Rauf As-Singkili –seseorang yang selalu dipanggil dengan nama Syekh di Kuala atau Syah di Kuala. Syah, lalu entah bagaimana menjadi Syiah, pernah menjadi perdebatan tersendiri di alam sunyi para sebagian dosen Universitas Syiah Kuala.
Sebutan Kuala adalah nama satu tempat, sebagai pertanda beliau berkhidmat di sana. Orang-orang pandai yang turun langsung menyelesaikan problem orang bawah kebanyakan. Dengan begitu, mereka memahami bagaimana suatu masalah diselesaikan.
Nama Kuala ini pula, yang kemudian dijadikan nama universitas pertama di Aceh. Dalam perjalanan, pernah pula memunculkan wacana lain, terkait kata syiah. Dalam satu surat keputusan, nama itu sedikit berbeda, yakni syah. Namun dalam hadih maja, selengkapnya bisa dilihat: Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Lakseumana (Adat pada Sultan, Hukum pada Ulama, Kanun pada Putri Pahang, Reusam pada Laksamana).
Nama Syiah Kuala menjadi sangat penting karena ia dilambangkan sebagai satu komponen kekuasaan penting dalam Kerajaan Islam Aceh Darussalam. Ada satu tumpuk Tupoksi –tugas pokok dan fungsi—dari kerajaan yang di berikan kepada komponen ini. Hukom dalam hal ini adalah hukum syariah, yang dibedakan dengan adat, kanun, dan reusam.
Dalam beberapa catatan, ulama kelahiran Singkil tersebut sangat berkonstribusi membangun peradaban di Kuala –sebagai tempat yang menjadi arena pertemuan berbagai domain kehidupan. Dengan gambaran perkembangan peradaban berlangsung melalui pesisir, maka posisi Kuala sangat strategis, dan mungkin karena itu, ulama dari Singkil ini memilih kawasan tersebut sebagai tempat untuk memberikan perannya lebih besar.
Ulama ini pula yang beberapa era kekuasaan Sultan, berhasil menyejukkan perjalanan kekuasaan para Sultanah. Sehingga konflik dalam masa tersebut tidak terjadi.
Dengan semua alasan tersebut, senior saya itu, menegaskan pentingnya nama Singkil. Namun kini, setelah sekitar empat abad setelahnya, Singkil terkenal berbeda. Ada kontestasi isu atas apa yang juga pernah terjadi, dua atau tiga tahun lalu. Memang terjadi sesuatu di Singkil. Namun sesuatu itu terjadi tidak dengan sendirinya. Ada pemantik –dan ironisnya—para orang pandai sering tidak melihat pemantik ini untuk menyelesaikan persoalan secara utuh. Karena tidak melihat pemantik ini, maka yang terjadi adalah mencerca tentang apa yang terjadi. Cercaan itu tidak saja datang dari luar. Cercaan juga datang dari dalam.
Ketika sedang memperbanyak bahan kuliah di sebuah kedai foto kopi pinggir kota, pegawai foto kopi yang sudah saya kenal langsung menodong saya dengan pertanyaan tentang Singkil. Saya katakan kepadanya, saya jawab tentang apa yang saya pahami. Selama ini, saya katakan kepadanya, saya baca berita yang dia juga bisa baca. Paling tidak setiap hari saya membaca empat sumber berita dengan empat warna dan cara pandangnya. Ironisnya keempatnya berbeda.
Suatu kali ketika saya telepon seorang teman di Singkil, seorang lokal, teman kuliah yang sekarang sudah pulang ke kampungnya, Singkil. Ia mengeluh: “Sahabat, kami sedang kalah oleh berita-berita dan komentar yang sangat menyudutkan kami!”
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.