Setiap kali mengingat kisah ini, menggelikan. Bisa lucu. Kadang kala selalu berpikir, kok bisa? Kisah dari seorang penting dari Aceh, yang sudah melanglang buana ke banyak negara. Seorang yang sebenarnya dekat, tapi tinggalnya di sana.
Ketika pertama bertemu secara langsung, suatu kali –padahal sebelumnya kami sering berdiskusi lewat facebook (ketika media sosial saya ini masih menyala), seorang kenalan baru menceritakan dalam bukunya mengenai bagaimana caranya ia menjadi penumpang gelap sebuah maskapai. Masalah tidak henti di situ, karena sasaran yang ia naiki maskapai adalah Eropa. Ternyata negara yang dianggap memiliki keamanan yang baik, dengan sederhana bisa ditembus seorang kampung.
Hal yang menarik karena banyak orang bisa belajar dari seorang kampung itu. Pengalaman mudahnya menembus lapis boarding waktu itu, berguna bagi semua maskapai yang ingin meningkatkan kemampuan pengamanan mereka. pengalaman semacam ini juga diburu banyak pihak lain yang senantiasa memperbaiki sistem pelayanan dan keamanan.
Pelaku semacam ini, di satu sisi dianggap sebagai kejahatan, namun tidak sedikit orang-orang yang terlibat dijadikan rujukan bagi sistem keamanan masa depan. Hal yang sama dalam berbagai fasilitas lain yang diganggu keamanannya. Katakanlah dari mereka yang membobol anjung tunai mandiri (ATM) pun, para aparat keamanan harus belajar bagaimana teknologi itu dibobol. Pengalaman ini akan berguna tidak hanya bagi sistem keamanan, melainkan bagi manusia.
Sebuah perilaku yang dianggap melampaui dari sistem keamanan yang ada, biasa akan mendapat perhatian lebih. Dengan pengalaman mereka yang bisa menembus, akan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran. Ke depannya pengalaman ini akan meminimalisir tingkat kejahatan dan pelanggaran.
Begitulah kejahatan berlangsung. Akan tetapi di tingkat bawah, pola-pola dalam sistem keamanan, kadangkala tidak berjalan karena faktor manusia. Dalam satu perjalanan dengan kereta, di belakang tempat duduk saya dan isteri, ada seorang penumpang perempuan yang tidak memiliki tiket. Kami tidak tahu persis dimana dan bagaimana ia bisa naik. Namun yang jelas, ketika sekitar empat jam perjalanan, petugas memeriksa tiket, ia segera ke arah samping toilet belakang.
Toilet belakang itu tidak jauh dari tempat duduk kami. Satu baris berselang ke arah belakang. Karena di belakang kami, bangkunya sudah diputar, maka kami pun memutar juga tempat duduk. Kami membelakangi arah laju kereta. Jadi berhadapan dengan arah toilet yang letaknya tidak jauh, dan kami bisa melihat orang yang tiada tiket itu menunggu di sana.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.