Ujian penerimaan mahasiswa sudah berbeda dari masa lalu. Wajar. Pengetahuan manusia memang harus berkembang dan selalu berproses ke jalan yang lebih baik. Secara logika, sangat sempit ruang bisa bermain gacok. Tapi dalam kenyataan, juga selalu terjadi. Penangkapan gacok yang terlibat, menandakan bahwa kejahatan atau pelanggaran pun selalu bermetamorfosis ke dalam bentuknya yang baru.
Pada dasarnya, gacok adalah orang yang mengikuti ujian atas nama orang lain. Kompensasi yang didapatkan oleh orang yag mengikuti ujian tersebut, adalah berupa bayaran –materi atau non materi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, gacok sama dengan joki, yakni orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya dan menerima imbalan uang.
Selain makna dalam konteks ujian, joki juga bisa berarti orang yang memberi layanan kepada pengemudi kendaraan yang bukan angkutan umum untuk memenuhi ketentuan jumlah penumpang ketika melewati kawasan tertentu. Sejumlah kota besar sudah menerapkan ketentuan ini untuk mengurai kemacetan. Biasanya untuk kendaraan yang tidak cukup penumpang di dalamnya, juga akan menggunakan jasa joki.
Joki juga pengatur lagu yang menangani mesin perekam lagu atau piringan hitam. Joki ini ditemui di studio radio atau diskotik. Terakhir, joki yang bisa ditemukan di lapangan pacuan kuda, sebagai penunggang kuda pacuan.
Dengan demikian, jasa joki sangat vital –khususnya bagi mereka yang menggunakan jasanya. Dalam berbagai ujian, joki selalu berharap akan kemulusan.
Dalam kehidupan, dipergunakannya joki tidak bisa dilepaskan dari kehidupan yang semakin banyak kepalsuan. Orang-orang yang mendapatkan ijazah dengan jasa joki, pada dasarnya adalah mendapatkan pengakuan formal tingkat ilmu seseorang. Ketika pengakuan formal itu didapat tidak dengan cara yang benar, gunungan kepalsuan menjadi semakin nyata.
Bagaimana orang-orang yang memiliki kualifikasi tertentu, kemudian dipergunakan untuk mengurusi kepentingan publik? Kualifikasi pengetahuan yang didapat dari jasa orang lain. Orang-orang yang belum memiliki kualifikasi –karena jasa orang lain—lalu diberikan kepercayaan dan kewenangan untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya belum kualifikasinya, apa yang terjadi?
Zaman semakin penuh kepalsuan. Zaman semakin penuh kepura-puraan. Tidak cukup hanya dengan pasrah memperbaiki dunia dalam zaman yang semakin penuh kepalsuan ini.
Berbahagialah orang yang tidak memiliki ijazah, namun hidup dengan bersih. Jangan pernah berpikir untuk mendapatkan ijazah dengan cara-cara jahil.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.