Pelanggaran dan kejahatan selalu berlangsung dalam kehidupan ini. Akan tetapi di tingkat bawah, pola-pola dalam penegakan terhadap pelanggaran dan kejahatan, kadangkala tidak berjalan dengan baik karena berbagai alasan, termasuk yang paling dominan: faktor manusia. Dalam satu perjalanan dengan kereta, di belakang tempat duduk saya dan isteri, ada seorang penumpang perempuan yang tidak memiliki tiket. Kisah ini sudah berlangsung lama, ketika era kereta api masih belum tertib. Ketika gerbong kereta bisa dinaikkan apapun dan penumpang tanpa tiket pun bisa naik kapan saja.
Kami tidak tahu persis dimana dan bagaimana ia bisa naik waktu itu. Namun yang jelas, ketika sekitar empat jam perjalanan, petugas memeriksa tiket, ia segera ke arah samping toilet belakang.
Toilet belakang itu tidak jauh dari tempat duduk kami. Satu baris berselang ke arah belakang. Karena di belakang kami, bangkunya sudah diputar, maka kami pun memutar juga tempat duduk. Kami membelakangi arah laju kereta. Jadi berhadapan dengan arah toilet yang letaknya tidak jauh, dan kami bisa melihat orang yang tiada tiket itu menunggu di sana.
Ketika petugas datang ke sana, kami melihat ia mengatakan sesuatu. Kami juga bisa melihat bayang-bayang sesuatu, yang kemudian berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, ketika ia mengatakan sesuatu itu.
Sebenarnya ketika kereta mulai berangkat, petugas sudah memeriksa tiket sekali. Entah bagaimana ia bisa lolos. Atau mungkin saja ia duduk entah di mana. Anehnya lagi, masuk dalam ruang tunggu kereta selama ini sangat ketat. Untuk masuk ke sana, tiket dan identitas diperiksa. Tidak boleh masuk orang yang tidak memiliki salah satu dari dua itu.
Dalam bayangan saya, ia sudah melewati dua pemeriksaan sekaligus, yang ternyata di pemeriksaan ketiga, ia kedapatan.
Adik sepupu saya, yang kebetulan ditugaskan ke Jawa seminggu, awalnya ketika pulang ingin merasakan kereta api hingga Jakarta, namun tidak jadi karena kartu tanda penduduknya yang belum jadi. Ia heran dengan semakin ketat seperti itu.
Sebaliknya, saya merasakan belum ketat ketika saya melihat ada orang yang ternyata juga bisa lewat. Mungkin berbekal pengalaman, yang membuat baginya semua menjadi mudah. Apa yang disebut ketat itu, akhirnya menjadi seni bagi mereka yang menjadi penumpang gelap. Keberadaan orang seperti ini ada di banyak tempat.
Tidak jarang, model orang yang menjadi penumpang gelap di dalam kereta, sesungguhnya sedang bertaruh dengan orang lainnya. Menurut mereka, sesekali penting untuk mengetes, apakah benar-benar sudah ketat, ataukah ketat yang masih longgar. Ia mendapat dua keuntungan sekaligus: bisa ke tempat tujuan dengan tiket gratis sekaligus mendapat bayaran atau taruhannya.
Adik sepupu saya, kira-kira menanyakan begini: apakah dengan seketat apapun, sudah benar-benar bisa menghindarkan dari penumpang gelap? Jawabannya bisa berbeda-beda. Penumpang gelap dalam kereta itu justru tidak seberapa dibandingkan dengan mereka yang mendompleng fasilitas lainnya.
Satu kejadian itu, mungkin tidak bisa menjadi cermin untuk mengukur sikap tegas pengelola kereta. Terlalu berlebihan apabila dengan satu kejadian itu, saya lalu menganggap bahwa semuanya bisa diatur. Tidak adil apabila saya menganggap semua memang begitu.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.