Jangan jadikan keburukan sebagai lahan untuk saling membantu. Bantuan yang diberikan atas nama rasa iba, ingin mengantarkan kesuksesan terhadap seseorang, namun dengan cara yang salah, akan menjerumuskan orang yang kita bantu ke dalam hal yang buruk.
Tidak jarang orang memilih jalan pintas. Menyuap, yang padahal antara mereka yang suap dengan yang menerima suap, hukumnya sama. Bahkan dalam agama kita, orang yang terlibat dalam suap, hukumannya yang paling ringan sama seperti dosa berzina dengan ibu kita sendiri.
Mengapa kita tidak takut ganjaran demikian? Gambaran betapa pula Islam menempatkan perilaku korup –bukan sesuatu yang main-main. Akan tetapi di sekitar kehidupan kita, perilaku koruptif merajalela. Berbagai lembaga pemerintah dan penegak hukum, terkontaminasi dengan perilaku ini.
Butuh mentalitas besar menghadapi kondisi bangsa yang demikian. Orang-orang yang bermental korup, tidak cukup lagi hanya dengan dinasihati. Mereka butuh penjeraan agar tidak merembes kepada orang lainnya.
Langkah ini bukan hal sederhana. Suatu kali, ada berita suatu daerah, polisi pernah menangkap joki atau gacok secara berjamaah. Dalam suatu ujian, gacok digunakan hampir setengah peserta ujian. Luar biasa. Cerita ini, selalu teringat ketika masa-masa penerimaan mahasiswa baru.
Mengapa digunakan joki atau gacok? Ini bukan soal ingin berilmu atau tidak. Orang-orang sedang membutuhkan selembar ijazah. Bukan ilmu di balik ijazah itu. Sehingga apapun dilakukan untuk mendapatkan selembar ijazah yang diperlukan itu.
Ijazah adalah surat tanda tamat belajar. Dengan ijazah memungkinkan lulus persyaratan tertentu yang diizinkan. Lazimnya, dengan ijazah, seseorang dianggap sudah menguasai hal tertentu, ilmu pada level tertentu.
Karena terkait dengan kepentingan ijazah, maka langkah penggunaan gacok atau joki, bukanlah sesuatu yang aneh. Langkah ini melanggar hukum dan etika. Melanggar hukum karena untuk memperoleh ijazah, seyogianya ada proses tertentu yang harus dilakukan oleh orang yang ingin memperolehnya. Secara etis, mendapatkan ijazah dengan proses yang tidak benar, akan membawa implikasi negatif bagi kehidupan.
Pada dasarnya, gacok adalah orang yang mengikuti ujian atas nama orang lain. Kompensasi yang didapatkan oleh orang yag mengikuti ujian tersebut, adalah berupa bayaran –materi atau non materi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, gacok sama dengan joki, yakni orang yang mengerjakan ujian untuk orang lain dengan menyamar sebagai peserta ujian yang sebenarnya dan menerima imbalan uang.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.