Soal Bagaimana Peradaban di Jalan Raya

Kepada seorang penegak hukum, yang kebetulan sedang kuliah di kampus ini, sering saya sampaikan sambil diskusi.  Hal-hal yang dianggap sederhana, namun seperti dibiarkan, pada saatnya akan menjadi partaruhan bagi peradaban. Bagaimana kondisi jalan raya di …

Kepada seorang penegak hukum, yang kebetulan sedang kuliah di kampus ini, sering saya sampaikan sambil diskusi.  Hal-hal yang dianggap sederhana, namun seperti dibiarkan, pada saatnya akan menjadi partaruhan bagi peradaban.

Bagaimana kondisi jalan raya di sekitar kita. Orang-orang yang menggunakan jalur salah, tidak ada penegakan hukum yang masif, mungkin bertumpu pada teknologi kamera. Lalu ia seperti dibiarkan begitu saja. Pada saatnya nanti, orang-orang yang menggunakan jalur yang salah itu, merasa seolah mereka yang benar.

Ada teman saya yang pernah menegur. Balasannya dengan kebencian. Orang sudah tidak peduli yang dilakukan salah. Karena sudah terlalu lama dilakukan, jadi sudah merasa keenakan untuk tidak dilakukan. Tidak seperti yang disebut Imam Ghazali, tazkiatun nafs, tapi ini bukan lagi sekedar melakukan sudah  seperti biasa. Justru ia marah ketika perbuatan salahnya itu ditegur.

Teman saya keluar dari rumah sudah agak terlambat. Ia harus masuk ke kantor, namun sebelumnya harus singgah di beberapa tempat untuk menunaikan sejumlah kewajiban. Kebetulan harus masuk ke bank yang ada di delta Masjid Raya. Ia ke sana untuk menyetor uang, yang salah satu cabang bank di maksud ada di sekitar tempat tersebut. Ia juga harus masuk ke tempat lain, merasakan banyak hal yang menguras emosi.

Dengan mengambil Jalan Diponegoro, lurus, tidak ada yang salah. Namun di delta itu, banyak orang juga mengambil lajur salah. Jalan satu arah dijadikan dua hingga empat arah. Orang-orang yang sudah berjalan benar, kadangkala harus mengalah.

Hal ini yang terjadi ketika di belakangnya ada seorang remaja yang mengambil lajur salah. Ia memakai helm yang berkaca hitam, menutup seluruh kepala. Ia mau mengambil ke arah kanan. Jalan satu arah, menjadi dua arah. Karena ia akan mengambil jalan lurus, remaja itu menabrak ban belakang motornya.

Tidak ada masalah sama sekali. Seseorang yang mengambil lajur salah, dan menabrak ban belakang motor yang mengambil lajur lurus, apalagi tidak jatuh, seharusnya biasa saja. Tetapi tidak pada remaja itu. Ia menatap orang dengan tajam, penuh murka. Menatap penuh amarah. Remaja tanggung yang menatapnya seperti menatap musuh.

Tidak mengherankan dengan kejadian ini. Orang-orang yang menggunakan lajur salah bersitegang dengan orang yang berjalan lurus, jamak terjadi di negeri ini. Banyak kasus di mana di jalan raya, orang yang menggunakan jalan lurus yang harus mengalah. Orang-orang yang sudah menggunakan lajur salah, sudah tidak benar, namun berperilaku seperti orang yang tidak bersalah.

Kita bisa menginventarisir polah demikian. Banyak simpang jalan yang sudah dilewati oleh mereka yang berlawanan arah. Alasan sederhananya adalah mengambil jalan dekat. Seandainya mengambil jalan lurus, maka akan memutar terlalu jauh.

Pada akhirnya, perilaku seperti itu tidak hanya dilakukan oleh orang biasa, ada orang yang seharusnya meluruskan perilaku orang-orang, juga ikut serta. Sambut-menyambut ini yang kemudian membuka jalan kian lebar untuk saling melawan arus.

Ketika jumlah orang semakin banyak yang melawan arus, maka orang yang sesuai arus sudah dirasakan ganjil. Justru orang yang mengambil jalan lurus yang sudah terasa aneh. Sebaliknya, orang-orang yang mengambil jalan melawan arus, dianggap sebagai perilaku yang benar dan lurus.

Untuk meluruskan perilaku begini, semua kekuatan harus bergerak. Penyadaran sekaligus penindakan harus dilakukan. Penyadaran harus dilakukan, seiring pelan-pelan dilakukan penegakan. Inilah cara untuk menghindari munculnya penyakit secara berjamaah.

Orang harus bergerak untuk menempuh jalan lurus, dalam semua sisi kehidupan. Orang yang tidak lurus harus diingatkan untuk kembali ke jalan lurus. Pilihan jalan tidak lurus bisa jadi bukan keinginannya, namun karena ia tidak berdaya, membuat peran orang di sekitarnya sangat penting mengem-balikannya ke jalur yang benar.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment