Soal Bagaimana Kebersahajaan

Pandangan saya, orang-orang yang datang ke tempat tertentu, apakah untuk makan, atau mencari sesuatu yang lain, pasti ada sesuatu yang berbeda di sana. Saya sebut tentang kebersahajaan. Pemiliknya, melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Termasuk mereka …

Pandangan saya, orang-orang yang datang ke tempat tertentu, apakah untuk makan, atau mencari sesuatu yang lain, pasti ada sesuatu yang berbeda di sana. Saya sebut tentang kebersahajaan. Pemiliknya, melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Termasuk mereka yang memiliki warung makan dan membuat orang-orang lain akan mencarinya. Walau tempat yang bersangkutan tidak berada di pusat kota. Biar di ujung kampung, akan ada yang mencarinya.

Sekali lagi, ada alasan seseorang datang ke suatu tempat berkali-kali, untuk tujuan menikmati kreasi dari suatu kebersahajaan. Jika itu terkait warung makan, kalau boleh menebak-nebak, ini soal bagaimana masakan diramu dan bagaimana masakan dipresentasikan –walau dalam bentuknya yang sederhana.

Mungkin banyak warung yang tidak memerhatikan semua kondisi ini dengan sempurna. Tapi warung dikunjungi secara bersahaja, dari hasil bagaimana pemiliknya mempersiapkan secara bersahaja, pasti sudah meramu masakan dan penataannya. Mereka sudah pada tingkat kesadaran tinggi, bahwa yang namanya warung, ditopang oleh dua kerja: depan dan belakang. Warung modern sudah membawa dua-duanya di hadapan pelanggan. Namun tidak sedikit yang mempertahankan posisi aslinya, depan ya di depan, belakang pun demikian.

Kerja belakang adalah kerja yang mempersiapkan berbagai makanan. Banyak warung seandainya kita ke belakang, akan mengurangi nafsu makan kita. Di sana menjadi tempat makanan dan rempah diramu. Berbagai masakan diolah dengan berbagai resepnya. Pekerja handal untuk mendapatkan rasa dan kualitas masakan, dihadirkan ke sana.

Kerja belakang akan melahirkan rasa, enak atau tidak. Namun rasa tidaklah cukup, tanpa ditopang oleh kerja depan. Ada yang presentasi, bagaimana bagaimana disusun dan diletakkan di rak dan atas meja. Rasa yang enak akan sirna seandainya tata letak makanan yang berantakan. Masakan enak, ditata amburadul di rak, tidak akan membuat orang tergoda untuk mencicipinya.

Di lokasi yang memperlihatkan dua-duanya, tidak bisa menyembunyikan seandainya ada kelemahan. Pelanggan kebanyakan, tidak mau tahu bagaimana ia diolah, yang penting rasa enak dan bentuknya menggoda.

Saya kira ada orang yang memiliki semuanya dalam hal masakan. Makanya ketika seseorang yang merasa kunjungan orang tertentu mewakili keunggulan tersebut, menaruh fotonya di depan warung akan memberi nilai tambah tersendiri.

Saya yakin, mereka yang sudah melakukannya secara bersahaja, tidak penting apakah di warungnya ada orang penting atau tidak. Justru bagi mereka, bagaimana mempersiapkan diri lahir dan batin melayani pelanggan, jauh lebih penting dari sekadar menampilkan foto-foto itu.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment