Saya suka mengikuti ujian terbuka doktor. Biasanya, pada even ini, selalu ada peuneutoh dari para guru. Skema penyelesaian pendidikan, khusus untuk doktoral, ujian terbuka itu menjadi satu panggung dengan yudisium. Berbeda dengan level magister dan sarjana, mereka tetap harus ikut yudisium walau sudah ujian tesis dan skripsi.
Even promosi –esensi dari ujian terbuka, semua pihak pemangku berbicara. Pengelola program yang memimpin sidang, pasti berbicara bagaimana kampus berusaha agar proses pendidikan berjalan dengan baik. Mereka yang diberi amanah sebagai pembimbing –atau promotor, berusaha agar proses transfer ilmu dan kebijaksanaan, bisa berlangsung dengan baik. Termasuk mahasiswa yang selalu bercerita bagaimana keterlibatan banyak pihak hingga studinya selesai.
Saya pernah mengikuti ujian terbuka seorang teman dan menemukan momentum, selalu diingatkan oleh pimpinan kampus, bahwa mereka yang sudah selesai harus melihat bagaimana padi. Tanaman ini, semakin menguning, ia semakin menunduk. Tanaman ini menjadi kebutuhan vital bagi banyak orang, terutama Asia. Namun ia tidak merasa diri harus menempatkan sebagai pihak yang sangat dibutuhkan.
Pesan ini selalu diberikan kepada mereka yang telah memperoleh gelar tertinggi. Ilmu itu persis seperti titipan yang lain, harus diperlakukan sebaik-baiknya. Seperti harta dan anak, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya. Orang yang berilmu tidak bisa mengklaim ilmu yang dipunyai akan bertahan lama. Sedikit saja nikmat kesehatan dicabut, maka ilmu itu akan hancur lebur dari seseorang.
Hal ini seyogianya selalu menjadi ingatan, bahwa seseorang yang sudah berilmu tidak boleh lupa diri. Seperti orang berharta, jangan berpikir harta akan abadi. Dengan berpikir demikian, orang-orang yang berilmu akan menunduk dalam. Tidak sebatas menyadari kefanaan ilmunya, melainkan juga kefanaan dirinya.
Ilmu bukan diperlakukan seperti barang mahal yang sulit diakses oleh mereka yang tidak berpunya. Berbahagialah jika selalu ada kesempatan untuk memberi ilmu pada semua ruang dan tempat. Mereka yang mengajarkan ilmu secara gratis, pasti akan mendapat balasan yang tidak disangka-sangka.
Masalahnya orang sering banding-bandingkan. Biaya sekolah, dengan bagaimana keuntungan yang diperoleh atas capaian ijazahnya. Menggratis ilmu seolah dianggap membuat semuanya serba murah. Dalam ilmu, tidak ada menghitung murah atau mahal. Tidak pula menganggap orang yang berbagi ilmu secara luas dianggap sebagai orang yang mengobral.
Perlu kekuatan untuk menyiapkan generasi muda berkualitas bagi semuanya, mampu atau tidak mampu. Orang-orang yang aksesnya terbatas, biayanya tidak ada, sangat penting diperhatikan oleh orang-orang pandai di sekelilingnya.
Percayalah, atas nama ilmu, tidak usah ada konsep tambah-tambah, kali-kali, atau kurang-kurang. Mari semakin banyak orang berilmu untuk selalu berbagi-bagi. Tidak akan berkurang sedikit pun ilmu yang kita bagi-bagikan itu.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.