Ada satu kisah yang terawat dengan baik –dan pasti didapat oleh mereka yang membaca Al-Quran. Selalu ada kisah-kisah yang idealnya menjadi hikmah dan pembelajaran bagi generasi yang hidup kemudian hari.
Saya ingin mengingatkan sebuah kisah. Suatu kali, Musa merasa ilmunya sudah tinggi. Akan tetapi Allah menegurnya dengan perjumpaannya dengan Khaidr. Bertemu dengan manusia pilihan yang berilmu di perjumpaan laut, adalah keinginan Musa. Ketika bertemu, Musa meminta ikut Khaidr, namun ia memberi syarat agar tidak menegurnya. Musa tidak tahan akan hal tersebut, sehingga masa berpisah mereka akhirnya sampai juga. Peristiwa ini terekam dalam al-Quran Surat al Kahfi mulai ayat 60.
Barangkali kita sudah memahami posisi Musa. Musa tidak hanya seorang Nabi. Ia juga seorang Rasul, dan bahkan lima Rasul yang memiliki gelar ulul azmi. Musa yang sudah berposisi demikian, kadang-kadang harus ditegur, konon lagi manusia. Bedanya mungkin pada peristiwa selanjutnya. Makhluk manusia pilihan akan segera memohon ampun kepada Allah, sedang sebagian manusia akan semakin sombong tidak tahu diri.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita, para sarjana, magister, doktor, post doktor, dan profesor atau orang-orang yang menguasai berilmu agama. Adakah di antara kita, dengan amanah memiliki ilmu yang diberikan Allah, lalu secara serampangan menggunakannya? Ataukah dengan ilmu yang secuil yang kita miliki, lantas menjadi senjata untuk saling mengadu domba manusia?
Orang-orang yang makin tinggi ilmu, dalam kehidupannya seharusnya makin menunduk. Orang-orang yang pandai, ulama-ulama besar, para intelektual sesungguhnya, tidak merasa mereka sudah memiliki ilmu yang tinggi. Justru biasanya orang yang menganggap ilmu dirinya yang sudah tinggi, sebenarnya orang yang masih rendah.
Ada konsekuensi ketika mereka sudah berilmu tinggi, yakni menyebarkan ilmunya kepada sebanyak mungkin manusia. Orang-orang yang sudah berhenti menyebarkan ilmunya, merupakan orang-orang yang belum tinggi tingkat keilmuannya. Karena ilmu adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, otomatis semakin banyak orang yang tersebar ilmunya makan semakin mudah jalan hidup seseorang.
Dengan konsekuensi demikian, maka penyebaran ilmu juga semakin terbuka. Semakin banyak orang dengan tidak memandang strata sosial, akan bisa mendapatkan ilmu dengan mudah. Orang yang memiliki ilmu semakin terbuka untuk mengajarkan ilmunya kepada siapa saja. Tidak terkecuali. Dengan posisi demikian, maka seharusnya akses kepada ilmu juga semakin mudah dan berbiaya murah. Tidak boleh hanya untuk mendapatkan ilmu orang harus membayar mahal, yang tidak bisa dijangkau secara ekonomi oleh semua orang. Inilah yang harus diperhatikan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.