Penulis Yang Tak Ingin Terkenal

Suatu kali saya tanya kepada mahasiswa di kelas: apakah setiap penulis itu dikenal publik? Ketika belum ada satu pun yang menjawab, lalu pertanyaan saya balik: apakah ada buku yang tidak lahir melalui jari penulis? Mereka …

Suatu kali saya tanya kepada mahasiswa di kelas: apakah setiap penulis itu dikenal publik? Ketika belum ada satu pun yang menjawab, lalu pertanyaan saya balik: apakah ada buku yang tidak lahir melalui jari penulis? Mereka yang di dalam kelas, seperti serentak, menggeleng.

Dalam realitas, memang tidak mungkin ada buku tanpa ada penulisnya. Namun tidak semua penulis, kita tahu siapa yang bersangkutan. Tidak semua penulis ingin diketahui orang lain –dengan berbagai alasan yang diyakininya.

Begitulah masing-masing tipikal seorang penulis. Ada penulis yang berkarya sedikit, satu dua saja, tetapi ingin dipublikasi banyak. Ada pula penulis yang produktif, tetapi tidak ingin diketahui siapa aslinya. Tidak sedikit penulis produktif, terutama pada zaman dulu, menyembunyikan namanya karena alasan takut pada kesombongan.

Bukankah membedakan antara kesombongan dan ingin terkenal itu tipis sekali? Orang berlomba-lomba ingin terkenal, bukan karena ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik. Terkenal lebih karena kepentingan pribadi untuk lebih tenar, dan sekaligus berimplikasi kepada pendapatan –suatu kepentingan yang sangat berbeda dari target pemberian pendapat.

Saya memiliki banyak kesempatan menelusuri sejumlah kitab-kitab lama yang tidak terang-benderang menulis nama penulis di sampulnya. Orang lebih banyak menggambarkan diri di sampul karyanya sebagai orang yang fakir, dengan ditonjolkan nama kampungnya. Pada akhirnya, orang mengetahui sendiri sebuah karya dari penelusuran melalui orang-orang yang lebih dahulu mengenal.

Pola semacam ini ternyata membuat orang-orang dulu lebih santun dan rendah hati. Memulai dengan pengakuan sebagai orang yang fakir dari segi ilmu, membuat mereka tidak malu mengaku harus belajar lebih banyak. Padahal yang ditulis karya-karya tingkat atas.

Saya memahami demikian, ketika tahun 2001, ketika turut serta dalam program menulis satu buku, seorang senior saya dalam dunia jurnalistik, menekankan bagaimana pentingnya nama Singkil –sebuah kawasan yang berada di pesisir selatan Aceh. Tekanan tersebut, diberikan, terutama terkait dengan nama seorang nama ulama terkenal Aceh, Abdur Rauf As-Singkili –seseorang yang selalu dipanggil dengan nama Syekh di Kuala atau Syah di Kuala.

Kepada mahasiswa baru di kampus Universitas Syiah Kuala, saat-saat masuk kuliah bagi mahasiswa baru ini, kami selalu dititipkan untuk menjelaskan siapa Syiah Kuala yang menjadi nama kampus jantung hati rakyat Aceh ini. Nama besar yang wanginya semerbak hingga sekarang. Seorang yang berjuang bagi peradaban, dengan menyingsingkan lengan baju dari lapangan paling bawah.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment