Saya semakin takut pada kecenderungan meningkatnya orang-orang yang memiliki keahlian bersilat lidah: termasuk kaum intelektual di dalamnya. saya tidak tahu persis dari mana pengaruhnya. Apakah karena semakin banyak kaum intelektual bersentuhan dengan lembaga dan kekuasaan politik yang menyebabkan mereka juga harus menyesuaikan diri? Tidak usah dilanjutkan, bisa jadi akan ada yang merasa tersinggung. Pengaruhnya bisa jadi, ketergantungan orang-orang kampus pada politik. Dalam semua hal. Bahkan untuk kebijakan internal kampus ditentukan kaum politik.
Bisa jadi ada penyebab lain, karena orang-orang politik juga menyukai kampus. Paling tidak, menyukai gelar-gelarnya –bahkan gelar guru besarnya. Maka ada proses barter yang saling menguntungkan.
Lalu sejumlah kasus mutakhir, seperti menjadi ujian menimpa kaum intelektual. Kaum ini mendapat tempat begitu baik dalam ruang sosial. Sejumlah kasus bisa menyebabkan kepercayaan ini akan terbalik. Semacam ujian publik. Ketika para intelektual dianggap sebagai barometer perilaku publik, ternyata kaum ini juga akan dianggap sama dengan komunitas sosial yang lain.
Belum selesai sejumlah kasus isu plagiat yang dilakukan sejumlah petinggi kampus –isu yang sangat sensitif bagi moralitas intelektual, publik dikejutkan lagi dengan adanya pabrikasi karya tulis, produsen jurnal ilmiah, dan semacamnya. Adanya pelecehan seksual di dunia kampus, terhadap mahasiswa bahkan terhadap sesame dosen, juga terjadi dan menjadi masalah serius. Sejumlah orang kampus terlibat dalam rangkap jabatan yang menggiurkan: demi menyembah uang.
Pernah terjadi pimpinan kampus penting dan ternama, ternyata menjadi pejabat salah satu badan usaha milik negara. Kini, sejumlah menteri atau wakilnya, juga mendapat hal yang sama. Tidak peduli etis atau tidak, tidak peduli sedikit melanggar atau tidak. Memang data semacam ini bukan sesuatu yang luar biasa. Ia bisa ditelusuri dengan mudah. Namun ada pihak yang membuka hal ini pada saat yang tepat, membuat info ini mendapat tempat penting.
Setiap berbicara tentang jabatan, selalu renyah dengan tunjangan dan fasilitas. Bisa jadi wajar jika orang akan terganggu jika ada hal-hal yang dibayangkan akan membuatnya tersandung dari jabatan yang sedang dirangkumnya. Kenapa orang-orang mau menggadai moral, barangkali inilah sebabnya. Soal uang dan pendapatan. Ia kerap membuat banyak orang kalap mata. Uang dan berbagai fasilitas akan membuat orang memasang mental yang tidak peduli moral.
Jadi uang dan jabatan, bisa dianggap sebagai alat pertaruhan bagi orang-orang yang disebut sebagai intelektual. Akan tetapi mereka yang tidak peduli, rasanya juga menjadi bisa dipertanyakan apakah mereka benar-benar intelektual atau bukan?
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.