Bukan Buku

Belakangan, saya ketemu sejumlah senior yang sudah mencapai guru besar, berbasa-basi menanyakan kapan saya bisa mendapatkan profesor. Mereka mangaitkan saya yang sudah menghasilkan banyak buku. Dalam –mungkin—20 tahun terakhir, tiap ulang tahun, saya selalu meluncurkan …

Belakangan, saya ketemu sejumlah senior yang sudah mencapai guru besar, berbasa-basi menanyakan kapan saya bisa mendapatkan profesor. Mereka mangaitkan saya yang sudah menghasilkan banyak buku. Dalam –mungkin—20 tahun terakhir, tiap ulang tahun, saya selalu meluncurkan buku baru. Termasukpada tanggal 2 April 2019, ulang tahun saya yang ke 43, atas bantuan Bandar Publishing, saya meluncurkan sebanyak 44 judul buku. Jika dihitung semua buku yang saya miliki, baik karya bersama maupun perorangan, jumlahnya bisa melebihi 200 judul.

Senior saya yang pura-pura menanyakan hal tersebut, yang saya tangkap, hanya berbasa-basi. Tidak mungkin mereka tidak tahu bahwa buku, tidak memiliki arti penting dalam proses menuju guru besar. Bukan seperti masa lalu, para guru besar, justru malu jika tidak memiliki buku. Sekarang eranya jurnal internasional bereputasi. Siapapun yang bisa menyelesaikan satu artikel –sebagaimana dipersyaratkan—secara formal mereka yang cukup syarat akan mencapai jabatan guru besar.

Soal penilaian bisa saja berbeda. Secara formal memang disebutkan memiliki satu artikel dengan SJR paling kecil 0.10. SJR yang dimaksud adalah Scimago Jorunal Rank, semacam indikator untuk menguru prestise dan pengaruh dari satu jurnal ilmiah. Ia dikembangkan oleh Scimago Lab dengan menggunakan data dan basis data Scopus. SJR ini sendiri mempertimbangkan kulitas jurnal lewat sumber sitasi. Ia dihitung seberapa bernilai satu sitasi yang diterima jurnal. Dan apabila score lebih tinggi, maka itu akan menunjukkan tingkat pengaruh dari jurnal yang bersangkutan.

Secara formal, dapat dikatakan seorang calon guru besar sudah memiliki capaian itu, maka syaratnya sudah terpenuhi. Sejumlah temuan dari para guru besar, mereka justru nanti dipermasalahkan pada rekam jejak, yang dalam persyaratan akademiknya sudah untuk diukur. Apakah seseorang yang pantas menjadi guru besar harus memiliki jumlah karya tertentu? Hal ini justru akan menimbulkan subjektivitas yang membahayakan, akibat tidak jelas keterukuran tersebut.

Dalam jenjang jabatan fungsional, sekali lagi bahwa pada dasarnya yang harus dilakukan adalah pembuktian, baik formal, maupun –idealnya—juga substansi. Ada dua kondisi menarik terkait pencapaian seseorang terhadap suatu jabatan fungsional. Pertama, apa yang dilaksanakan seorang berkaitan dengan tridarma, harus dilaporkan atau didokumentasikan secara formal. Berbagai kegiatan tridarma, didahului oleh dasar pelaksanaan, adanya kegiatan, serta bukti sudah melaksanakan kegiatan tersebut. Kedua, orang-orang yang hanya berorientasi pada pencapaian formal semata.

Jadi tidak mungkin senior saya di atas, tidak memahami proses ini. Pasti mereka tahu, buku itu tidak ada “harganya” dalam blantika fingsional sekarang ini. Barangkali buku dianggap tidak lagi dari pikiran yang sehat, dari para akademisi yang juga harus sehat lahir dan batin, hehe…

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment