Saya sudah enam kali memberitakan ceramah tentang bagaimana menembus jurnal internasional bereputasi. Khususnya yang diundang secara formal. Jika tidak formal, tentu saja lebih banyak. Maksud saya, yang formal diundang oleh lembaga atau institusi perguruan tinggi. Salah satunya, karena hal ini pernah saya tulis, di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh. Saya menulis sejumlah cerita yang terkait perjalanan.
Saat melakukan perjalanan ke Lhokseumawe, saya secara khusus menikmati bu prang (nasi perang) bersama segelas kopi sanger. Perjalanan ini sudah lama berlalu. Catatan saya, termasuk Anda yang melewati jalur utara, adalah melewati kawasan bu prang. Mungkin tidak semua orang merasakannya, karena tidak semua angkutan berhenti. Di jalur ini, saya kira salah satu kuliner yang unik dan lahirnya tidak dikondisikan, adalah bu prang ini.
Saya beberapa kali menelusuri keberadaan dan sejarah bu prang, belum saya temukan secara utuh. Lewat persebaran lisan, saya dengar istilah bu prang lahir dari satu tempat pemberhentian angkutan. Samping tempat pengisian bahan bakar Ulee Gle (Bandar Dua, Pidie Jaya), ada warung yang menyediakan nasi seukuran mini.
Dari mulut ke mulut, disebut bu prang, karena nasi bungkus yang dijual di sana mirip seukuran nasi yang disiapkan saat konflik dulu. Maksudnya kebutuhan nasi cukup hanya untuk mengganjal perut. Mereka yang kuliah di Jawa (terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta), nasi ukuran mini ini juga tidak asing. Di sana disebut dengan istilah nasi kucing.
Setiap lewat kawasan Ulee Gle, saya selalu ingat nasi kucing ketika berada di Semarang, Jawa Tengah, atau sebagian kawasan Jawa. Ada satu kesamaan penting bagi saya, dalam hal kreativitas menyediakan nasi bungkus. Ulee Gle memperkenalkan bu prang. Semarang sebagai salah satu kota yang memperkenalkan nasi kucing. Kedua jenis nasi ini bukan benar-benar seperti yang digambarkan pada namanya, melainkan pada ukurannya. Jika bu prang digambarkan sebagai nasi yang bisa dimakan cepat dalam suasana terjepit, maka nasi kucing juga demikian. Kedua jenis nasi ini digunakan oleh komponen yang berbeda. Awalnya, bu prang dimakan oleh para sopir dan penumpang yang tidak memiliki banyak waktu. Sementara nasi kucing dimakan mahasiswa, yang awalnya berdasarkan kemampuan kantong mereka.
Spirit bu prang ini terkait dengan tujuan kepergian saya ke Lhokseumawe. Saya mendapat undangan sekaligus tugas dari pimpinan, untuk membagikan pengalaman dalam mempersiapkan artikel sekaligus proses mengirimkannya ke jurnal internasional bereputasi. Khususnya bidang hukum. Tempatnya di Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, kampus Buket Indah, Lhokseumawe. Karena ini tugas, saya tidak bisa mengelak. Semampu saya, apa yang pernah saya lakukan, pengalaman itu saya bagikan kepada kolega saya yang sebagian juga sudah pernah menulis artikel scopus.
Jurnal memiliki sejumlah klaster. Jurnal internasional, berbeda dengan jurnal internasional bereputasi. Demikian juga dengan jurnal nasional, posisinya berbeda dengan jurnal yang sudah terakreditasi. Selama ini dosen berusaha menulis artikel yang diperuntukkan ke jurnal internasional bereputasi itu. Tujuan workshop di Buket Indah, berkaitan dengan target jurnal internasional bereputasi ini. Diharapkan, setelah ikut workshop, akan berjumlah artikel yang lahir dari kampus ini.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.