Dewaisasi Scopus

Saya pernah menulis beberapa kali tentang Scopus. Catatan yang saya anggap paling berkesan, saat menulis kolom dengan judul “Bu Prang dan Artikel Scopus” [https://kupiluho.wordpress.com/2020/10/30/bu-prang-dan-artikel-scopus/]. Pada kolom itu, saya menceritakan pengalaman ketika diminta salah satu Fakultas …

Saya pernah menulis beberapa kali tentang Scopus. Catatan yang saya anggap paling berkesan, saat menulis kolom dengan judul “Bu Prang dan Artikel Scopus” [https://kupiluho.wordpress.com/2020/10/30/bu-prang-dan-artikel-scopus/]. Pada kolom itu, saya menceritakan pengalaman ketika diminta salah satu Fakultas Hukum, untuk memberikan materi tentang cara membuat artikel untuk jurnal terindeks scopus. Jurnal scopus, dengan status jurnal internasional bereputasi, sekarang ini sangat penting karena menyangkut sejumlah syarat yang harus dipenuhi dosen ketika mau naik peringkat pangkat fungsionalnya. Walau yang termasuk dalam kategori jurnal internasional bereputasi tak semata sosial jurnal scopus, melainkan ada yang lain.

Merujuk pada realitas manajemen dan pengelolaan jurnal, bahwa yang dimaksud Scopus itu sesungguhnya basis data abstraksi dan sitasi internasional untuk literarur ilmiah bereputasi yang dikelola oleh salah satu perusahaan publikasi penting di dunia. Basis data ini mengindeks tak hanya jurnal, melainkan juga prosiding –yang dalam blantika dunia ilmiah sudah dianggap kasta rendah dalam publikasi—ilmiah, dan buku. Bahkan sekarang turut bisa terindeks hak paten. Semuanya berasal dari berbagai disiplin ilmu.

Khusus untuk prosiding ilmiah, biasanya dihasilkan dari pertemuan ilmiah, umumnya yang menyediakan ruang call for paper. Banyak seminar, bahkan yang level lokal pun, sudah terbiasa dengan call for paper, walau tidak selalu berujung pada indeks scopus. Indeks ini biasanya hanya digunakan untuk konferensi atau seminar yang berlevel internasional. Bagi orang kampus, publikasi semacam ini juga turut menentukan daya tarik dan keikutsertaan akademisi umumnya.

Apa yang menarik dari indeks ini? Barangkali hanya masalah pendewaan yang sudah mulai kelewat batas. Para insan kampus sudah sangat terpasung dengan indeks dalam melahirkan publikasi: yang hakikatnya harus terbaca sebagai ruang tebar pemikirannya orang kampus. Ada persyaratan yang membawa seseorang hingga (hanya) ke publikasi terindeks. Syarat ini yang membuat insan kampus lalu mati-matian untuk mengejarnya. Entah sampai kapan dunia kampus akan dikepung oleh keadaan semacam ini.

Dunia kampus harusnya selalu memberi pencerahan kepada semua yang membutuhkan. Tidak terbatas pada indeks atau tidak. Benar bahwa indeks menentukan kualifikasi tertentu yang juga menjadi hal yang harus dicapai. Masalahnya tidak semua hal bisa diselesaikan dengan indeks. Jangan sampai alam pikiran, yang harus disumbangkan dengan riang gembira bagi proses penyelesaian masalah nyata dalam kehidupan nyata, justru dikapitalisasi untuk kepentingan yang semakin menjauhkan kampus dari realitas.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment