Malam ini, saya melihat tabung gas tiga kilogram dengan isinya, mulai dijual dimana-mana. Jumat kemarin, masih ada sejumlah orang yang berkumpul di depan masjid kampus, sambil menenteng tabung gas kosong seukuran itu dan bertuliskan untuk masyarakat miskin. Saya menyadari betul, pemegang tabung itu tak semua miskin. Dalam dunia seperti sekarang, tabung ukuran isi demikian, sangat mudah dalam pemakaian. Tentu saja, dengan harga bawa kartu keluarga, bersubsidi. Untuk mereka yang berjualan di kios-kios pinggir jalan malam ini, pasti bukan dengan harga subsidi.
Seminggu yang lalu, saat mencari gas 12 kg, harganya masih gila-gilaan. Dua hari setelah saya mendapatkan satu tabung dari seorang teman, dengan harga nyaris normal, tabung dan isi gas 12 kg juga berderet dijual dipinggir jalan lingkar. Saya cek, harga lebih mahal 20-20 ribu dari normal. Untuk mereka yang membutuhkan, harga yang naik segitu, mungkin tidak terlalu dipusingkan. Kecuali jika naiknya drastis. Di pasar-pasar gelap, yang terasa ada namun tidak pernah jumpa, ada yang menjual hingga Rp350 ribu.
Saya tidak ingin berdebat tentang harga. Ketika warga Banda Aceh diyakinkan bahwa gas itu dengan mudah dibawa –jalur laut dari Lhokseumawe ke Krueng Raya, lalu diangkut ke pusat gas di Indrapuri—saya menyaksikan antrean orang yang ingin mendapatkan gas, nyaris tidak manusiawi. Tempat-tempat untuk pasar murah, yang menyediakan 500-1.000 tabung, bisa diantre orang yang lebih 3.000. Saya ingat saat pulang kampung, satu truk gas membawa hanya 130 tabung tiga kg, sedangkan orang kampung yang datang, jumlahnya tidak terhitung. Orang lebih sensitif pada saat-saat begitu. Truk gas yang masuk, langsung diikuti. Warga dari mana pun akan datang, tujuannya hanya satu, ingin mendapatkan sedikit gas untuk memasak.
Sejumlah warung di Banda Aceh dan Aceh Besar harus berhenti. Pada saat gas sulit didapat, mereka tidak bisa memaksa diri. Harga makanan yang dinaikkan, juga melahirkan sensitivitas yang lain bagi pembeli. Mereka memahami betul tentang itu. Orang-orang yang antre gas berjam-jam –bahkan ada yang dari subuh hingga ashar, hanya untuk mendapatkan satu tabung tiga kg—dapat dipahami sebagai upaya mereka dalam memenuhi standar minimal kebutuhan hidup.
Saya bolak-balik mikir, hingga semudah malam ini mendapatkan satu tabung gas, bagaimana kondisi seperti ini bisa terjadi. Pertanyaan lebih praktis, kepentingan siapa yang membuat kesusahan banyak orang semacam ini? Jika ada yang ditakutkan muncul permainan pasar, bukankah negara memiliki skema dan perangkat hukum untuk itu? Jika ada yang mengendalikan harga, bukankah juga ada struktur negara yang bisa mengejarnya? Atau jangan-jangan, justru perusahaan negaralah yang melakukannya? Tetapi untuk kepentingan apa?
Pertanyaan-pertanyaan tidak berkualitas itu muncul saat kebutuhan gas genting dan penting. Para pejabatnya mengatakan jangan takut, mereka menipu, katanya dalam sekejap waktu, gas itu langsung ada. Dalam realitas, orang-orang antre dari subuh hingga malam. Demi apa coba? Demi setabung gas kecil.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.