Generasi Ekosentrisme

Merujuk pada perkembangan zaman, masing-masing cara pandang, pada dasarnya berkembang sedemikian rupa menurut zamannya. Termasuk antroposentrisme. Apakah antroposentrisme itu sebuah paham? Merujuk pada “isme”, bisa menunjukkan paham, aliran, ajaran, ideologi, sistem kepercayaan, atau bahkan gerakan …

Merujuk pada perkembangan zaman, masing-masing cara pandang, pada dasarnya berkembang sedemikian rupa menurut zamannya. Termasuk antroposentrisme. Apakah antroposentrisme itu sebuah paham? Merujuk pada “isme”, bisa menunjukkan paham, aliran, ajaran, ideologi, sistem kepercayaan, atau bahkan gerakan (dalam bidang filsafat, politik, sosial, ekonomi, seni. Isme ini berfungsi membentuk nomina (kata benda) yang menjelaskan suratu konsep atau pandangan dunia tertentu. Berasal dari bahasa Yunani (ismos), Latin (ismus), dan Inggris (ism). Awalnya, sufiks –isme memang dari bahasa asing. Akhirnya afiks itu produktif dan dianggap layak diterapkan pada dasar kata Indonesia. Sufiks adalah imbuhan yang ditambahkan pada akhir kata dasar untum mengubah makna, jenis kata, atau fungsi tata bahasanya. Sedangkan afiks adalah satuan gramatikal terikat yang melekat pada kata dasar untuk membentuk kata baru dengan makna berbeda.

Istilah ini sudah menjadi diskursus sejak lama. Buku Etika Lingkungan yang ditulis A. Sonny Keraf, mendekatkan istilah dalam paham sekaligus gerakan lingkungan. Namun demikian, sebuah istilah yang kemudian menjadi paham atau gerakan, tetap mencerminkan konteks masa tertentu.

Sebagai sebuah paham –atau jika ada yang meyakini sebagai ideologi—antroposentrisme sudah hidup pada eranya tersendiri. Setiap era ada tokohnya, demikian juga dengan tokoh yang selalu ada eranya. Sebagaimana sudah disebutkan, setiap perkembangan pemikiran, selalu saja ada ruang “debat” keilmuan yang berlangsung, baik dalam satu zaman maupun lintas zaman. Konteks antroposentrisme, misalnya yang kemudian menjadi pemacu hingga lahir yang namanya biosentrisme dan ekosentrisme. Jika bersandar pada perkembangan pemikiran, keduanya lahir untuk merespons antroposentrisme yang bisa dipastikan –dalam konteks filsafat lingkungan—lahir sebelum bio dan eko.

Sejumlah pemikir biosentrisme, antara lain Louis Charles Birch yang berbicara tentang konsep nilai intrinsic dan zoocentrisme (etika berbasis kehidupan hewan. Selain itu, Aldo Leopold yang terkait dengan tanah. Di Indonesia, A. Sonny Keraf yang mengkampanyekan agar etika lingkungan harus mencakui seluruh komunitas ekologis. Birch lahir Melbourne, 8 Februari 1918 (meninggal 19 Desember 2009), mengejar dan meneliti di sejumlah kampus, seperti University of Adelaide, University of Chicago, Oxford University, University of Sidney. Ia bergabung dalam Australian Academy of Science. Sedangkan Leopold, penulis berkebangsaan Amerika yang lahir 11 Januari 1887 (meninggal 21 April 1948). Pada masanya ia menjabat profesor ekologi dan manajemen satwa liar di University of Wisconsin. Atas dasar pemikirannya itu, termasuk dalam memelopori kawasan lindung dan gerakan konservasi, ia juga digolongkan sebagai tokoh ekosentrisme.

Ekosentrisme juga dibicarakan oleh Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Kabinet Abdurrahman Wahid. Tokoh kuncinya, Arne Naess yang menggagas tentang deep ecology. Naess lahir di Oslo, 27 Januari 1912 (meninggal 12 Januari 2009), profesor filsafat di University of Oslo, seorang filsuf Norwegia yang pikirannya terkait dengan nilai intrinsik semua makhluk hidup dan konsep deep ecology.  Tahun 1973, Naes menulis artikel “The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement: A Summary“, yang mengingatkan pentingnya mendapatkan perhatian tentang gerakan berpikir untuk deep ecology dengan menyentuh semua sisi.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment