Idealnya, dalam kehidupan bernegara, tidak boleh ada kontradiksi. Jika ada media yang sedang diteror dengan potongan kepala babi, jangan sampai keluar kata-kata dari pejabat penting urusan komunikasi untuk meminta dimasak saja. Tidak boleh pejabat bermain-main dengan sesuatu yang menyakiti perasaan publik. Ingatan satu kejadian sebagai perbanding, ketika menteri pertanian di Jepang mundur gara-gara bercanda soal beras, dan itu dianggap menyakiti publik.
Saya kira sangat penting untuk menjaga dan tidak membuat berbagai kontradiksi. Keadaan ini ada kecenderungan, khususnya dalam perilaku, sudah sangat dekat dengan kita. Banyak orang berucap yang baik-baik namun melakukan hal yang sebenarnya dibenci. Ironisnya, sesuatu yang dibenci itu kerap berulang. Tidak hanya sekali. Tidak butuh analisis stratifikasi sosial yang dalam untuk melihat realitas ini, karena semua orang dan semua golongan berkemungkinan pernah melakukan sesuatu yang kontradiktif dalam hidupnya.
Kontradiksi, seyogianya tidak perlu terjadi bila menggunakan alat ukur bahwa manusia terus berkembang. Manusia terus memajukan dirinya dengan berbagai cara, dengan melihat ke depan –yang tidak selalu akan melihat ke belakang, padahal kadangkala melihat ke belakang dibutuhkan agar tak ketika melangkah ke depan tidak akan tersandung dengan perilaku kontradiktif selanjutnya.
Seorang Albert (1952), saat datang ke Oslo untuk menerima Nobel perdamaian pernah menyitir bahwa kita menjadi semakin tidak manusiawi, ketika kita semakin tumbuh menjadi superman (Erich Fromm, 1987). Apa yang disitir Albert, dapat menjadi semacam cemeti untuk melihat bahwa kemajuan teknologi dan komunikasi yang dikendalikan oleh manusia, tidak serta-merta membuat semua manusia semakin baik. Manusia semakin sadar perilakunya dengan mudah diikuti orang. Tidak mudah untuk menyembunyikan kebusukan, namun hal yang busuk terus-menerus dilakukan.
Banyak fenomena yang semakin dekat dengan kita, dan banyak manusia mengkampanyekan ajaran-ajaran untuk kebaikan, tapi tidak tulus-ikhlas melakukan kebaikan. Perilaku tidak membumi dengan ajakan-ajakan untuk memperbaiki kualitas hidup dalam kehidupan manusia.
Kontradiksi, sebenarnya bentuk lain dari fenomena dunia yang semakin miskin keteladanan. Berbagai perkembangan dibidang tertentu, tidak selalu diikuti oleh bidang yang lainnya. Peningkatan kualitas teknologi tidak diikuti oleh peningkatan kualitas iman dan perilaku. Itulah kemiskinan keteladanan.
Hal ini semakin nyata ketika kasus-kasus berkhianat dengan memayungi koruptor terus terjadi. Tetapi sekali lagi, soal keteladanan. Orang sudah tidak malu, saat ditangkap sedang berbuat busuk, tinggal gunakan saja simbol-simbol kesalehan, yang itu juga pada saatnya akan menjadi pertimbangan pengadil dalam meringankan hukuman. Betapa banyak mereka yang duduk di kursi terdakwa, tiba-tiba pakaiannya seperti orang sangat saleh.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.