Keberpihakan Orang Pandai

Sejumlah catatan sejarah memperlihatkan betapa besar pengeluaran kekuasaan untuk mereka yang pandai. Membiayai orang pandai, hakikatnya bukan sesuatu yang aneh. Kekuasaan membutuhkan orang pandai adalah satu hal, namun mereka yang pandai juga membutuhkan kekuasaan, adalah …

Sejumlah catatan sejarah memperlihatkan betapa besar pengeluaran kekuasaan untuk mereka yang pandai. Membiayai orang pandai, hakikatnya bukan sesuatu yang aneh. Kekuasaan membutuhkan orang pandai adalah satu hal, namun mereka yang pandai juga membutuhkan kekuasaan, adalah hal lain.

Kekuasaan butuh orang pandai tidak selalu karena pertimbangan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Kadang-kadang hanya soal kebutuhan legitimasi. Sedangkan mereka sebagai orang pandai membutuhkan kekuasaan, karena membutuhkan amunisi materi yang kadang tidak sedikit.

Kesalingan ini ada peluang dimanfaatkan. Pada masa lalu, mereka yang bergantung pada kekuasaan, tidak bisa berpaling karena kebutuhan berbagai fasilitas. Sejumlah pemberi pendapat tidak mungkin terlepas dari kepentingan pendapatan. Bisa dibayangkan bagaimana proyek efektivitas penjajahan dimainkan oleh para orang pandai saat Hindia Belanda masih dikuasai Belanda.

Pada masa penjajahan, tidak sembarang orang pandai bisa masuk dalam lingkar kekuasaan. Prosesnya berliku, terutama pada kekuasaan yang mempertentangkan sipil dan militer di awal abad ke-20.

Era sudah berubah, namun sepertinya tidak semua pola sudah berubah. Untuk hal-hal yang terkait legitimasi dan ketergantungan, sepertinya pola masih sama dengan dulu.

Pernah suatu waktu kita disuguhkan mengenai informasi koreksi anggaran. Rencana dan besarnya anggaran akan dikoreksi oleh pemegang kekuasaan tingkat di atasnya. Tujuannya, katanya, untuk memastikan usulan anggaran melalui berbagai program masuk akal dan mungkin bisa mewakili berbagai kepentingan. Catatan adanya kepentingan tidak bisa ditampik di tengah suasana politik yang penuh balas jasa.

Salah satu dana yang besar dikeluarkan oleh kekuasaan adalah membiayai kebutuhan orang pandai. Dalam berbagai lini kekuasaan, selalu ditempatkan orang pandai untuk mendukung kerja mereka. Wujud dan hakikat kerja yang kemudian diatasnamakan rakyat, masih terbuka bisa diperdebatkan. Dengan demikian ketika membiayai orang pandai lantas disebandingkan dengan membiayai kebutuhan rakyat, juga menjadi terbuka untuk didiskusikan. Di sinilah ada satu kesan yang makin menguat, mengenai adanya saling-silang membutuhkan antara mereka yang memegang kuasa dengan orang pandai yang juga membutuhkan fasilitas dalam hidupnya.

Banyak orang pandai yang dengan tekun berdiri di balik kursi kekuasaan. Berjejer orang pandai juga teguh membantu mereka yang sedang berjuang mendapatkan kekuasaan –dengan modal yang dimiliki. Mereka melakukan peran melalui operasionalisasi teori. Lalu tipe orang pandai yang demikian, akan menunggu bagian ketika kekuasaan sudah di tangan. Bagian inilah yang dibagi-bagi sesuai dengan peran masing-masing. Karena bagian tidak bisa dibagi terbuka, maka penyalurannya melalui pendampingan berbagai program kerja.

Orang bijak selalu mengingatkan bahwa orang pandai itu tidak boleh menengedah tangan. Kekuasaan yang tidak berpihak pada orang pandai akan membuat suasana ketergantungan tiada tara.

Kesaling-silangan inilah yang sudah diingatkan al Ghazali. Dalam karyanya Ihya ‘Ulumuddin, al Ghazali –ulama yang hidup pada abad ke-12—mengungkapkan idealnya orang pandai itu menjaga jarak dengan kekuasaan. Orang pandai tidak datang ke pemangku kekuasaan.

Ada alasan penting mengapa Ghazali meminta orang pandai membatasi datang ke pemangku kekuasaan. Efeknya bisa fatal, bahwa seseorang ketika memasuki lingkungan para penguasa, yakni: Pertama, terpengaruh atas kebaikan yang diberikan oleh mereka –sehingga terganggu akan nikmat dari pencipta. Orang akhirnya akan beranggapan seolah-oleh semua kebutuhan manusia hanya mampu dipenuhi oleh mereka yang berkuasa. Kedua, orang pandai terpaksa diam atau tidak lagi ingkar terhadap kezaliman penguasa. Mereka yang dalam hal apapun sudah bergantung, mulutnya terbungkam termasuk untuk mengoreksi jalannya kekuasaan. Ketiga, potensi untuk mencari keuntungan materil. Ini yang paling banyak, dimana orang-orang mendekat ke rumah penguasa hanya untuk mendapat bagian materi bagi dirinya.

Alasan ini yang menyebabkan al Ghazali berpendapat bahwa potensi mudharat sangat besar ketika orang pandai senang naik-turun tangga istana pemangku kuasa. Ada alasan penting yang menyebabkan al Ghazali berpikiran demikian. Menurutnya, ketika seorang pandai datang ke sana, ia harus mempersiapkan diri dengan cara menyesuaikan dirinya agar selaras dengan selera pemangku kuasa. Persiapan ini tidak sebatas pada fisik, melainkan juga psikis. Seseorang bahkan harus mampu menyanjung segala sesuatu yang bisa jadi bertolak-belakang dengan hati nuraninya. Dalam penyesuaian diri ini, orang pandai tidak jarang harus menyenangkan hati mereka yang berkuasa.

Konsep menyenangkan hati, pada taraf minimal adalah berdiam atas keadaan. Setelah merasakan dijamu menjadi tidak enak lagi mengoreksi. Apabila dibutuhkan, orang pandai akan dijemput lalu dijamu di istana. Ketika pulang, lalu mendapat buah tangan, piagam, atau apapun namanya, bisa digantung di dinding rumah. Maka sungguh tidak sederhana ungkapan Ghazali. Bukan tidak boleh membantu pemangku kekuasaan. Konteksnya adalah menginjak kaki istana raja dianggap sama dengan mengiba kepada mereka yang berkuasa.

Untuk hal ini, sesuatu yang harus diingatkan kepada orang pandai adalah agar mereka selalu menggunakan memiliki jiwa yang sehat. Memberi pendapat apapun yang dibutuhkan oleh siapapun, sama sekali tidak boleh tergantung pada seberapa besar materi yang disediakan untuk itu.

Sebagaimana sudah disampaikan, banyak kasus pendapat orang pandai sangat ditentukan oleh seberapa besar pendapatan yang disediakan. Corak yang demikian, sudah menempatkan orang-orang pandai berada dalam kondisi yang tidak sehat jiwa dan raganya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment