Ketidakadilan Lingkungan

Ada sejumlah buku yang membahas etika lingkungan, antara lain Sonny Keraf dan Otto Soemarwoto. Peneliti asing seperti Dale T. Snauwaert –profesor educational theory and social foundations (University of Toledo, Ohio), melihat soal keadilan dalam membicarakan …

Ada sejumlah buku yang membahas etika lingkungan, antara lain Sonny Keraf dan Otto Soemarwoto. Peneliti asing seperti Dale T. Snauwaert –profesor educational theory and social foundations (University of Toledo, Ohio), melihat soal keadilan dalam membicarakan hal-hal yang terkait kehidupan manusia.

Sejumlah pikiran Keraf sudah saya tuliskan. Saya ingin mengemukakan sedikit tentang Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto, pengajar bidang lingkungan pada Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran. Ia bahkan dianggap sebagai salah seorang tokoh lingkungan hidup dan pembangunan terkemuka Indonesia yang diakui dunia internasional (MIPA, 2025).

Otto Soemarwoto menyebutkan manusia sudah sangat dominan selama ini memandang alam hanya untuk memenuhi kebutuhannya semata. Benar bahwa semua sumber daya alam pada akhirnya akan dimanfaatkan untuk manusia, namun tidak dalam bentuk materi saja. Pemanfaatan itu tidak hanya dalam pemanfaatan sumber pendapatan, melainkan bisa dalam bentuk udara segar atau penyimpanan air bersih bagi kehidupan manusia (Soemarwoto, 1994).

Sejumlah referensinya mengutip pemikiran dari Dale T. Snauwaert. Sejumlah pikiran yang hadir terkait etika tersebut, penting dalam pengembangan kebijakan SDA dan lingkungan ke depan. Dalam salah satu bukunya, Teaching Peace as a Matter of Justice: Toward a Pedagogy of Moral Reasoning, mengaitkan hal-hal yang terkait keadilan manusia tidak mungkin dipisahkan dari moral.

Buku di atas, mendudukkan bagaimana soal isu keadilan –termasuk melawan ketidakadilan—harus berangkat dari isu bagaimana penalaran dan penilaian moralnya. Dalam hal ini, pengembangan kapasitas warga negara untuk penalaran dan penilaian moral sangat penting, karena merupakan syarat yang dibutuhkan untuk mewujudkan keadilan –hingga perdamaian pada semua tingkat kehidupan manusia (Snauwaert, 2023).

Dengan demikian, berdasarkan rujukan di atas, ada catatan penting terkait isu bagaimana kepentingan materil manusia tidak boleh menyederhanakan makna kebutuhan hidup manusia tersebut. Inilah yang disebut oleh Snauwaert sebagai antroposentrisme yang menolak keberadaan nilai-nilai intrinsik alam. Sikap –termasuk dalam kebijakan—merupakan cermin dari dominannya pandangan antroposentrisme dalam sejarah hubungan manusia dengan lingkungannya.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment