Kompetisi Pasar dan Pasar Kompetisi

Apakah Anda percaya anak-anak kampung bisa berkompetisi dengan baik melawan anak-anak kota? Sebagian orang yakin bisa karena merasa akses terhadap materi dapat dilakukan dari mana pun. Pertanyaannya, mengakses dengan apa? Apakah sekolah-sekolah di pelosok mendapatkan …

Apakah Anda percaya anak-anak kampung bisa berkompetisi dengan baik melawan anak-anak kota? Sebagian orang yakin bisa karena merasa akses terhadap materi dapat dilakukan dari mana pun. Pertanyaannya, mengakses dengan apa? Apakah sekolah-sekolah di pelosok mendapatkan materi dengan mapan? Makanya saya beranggapan, afirmasi itu masih mutlak dibutuhkan. Anak-anak pinggiran harus mendapat sedikit kemudahan disebabkan kondisi mereka yang tidak sama mendapatkan layanan.

Afirmasi bisa membuat kualitas sedikit rendah, di satu sisi. Namun di sisi lain, tidak adanya optimalisasi layanan, justru menjadi ruang untuk kebijakan semacam ini. Mempermudah akan membuka ruang bagi mereka untuk menikmati dengan baik pendidikan.

Atas dasar itulah, saya merasakan kompetisi secara bebas, justru tidak adil. Membiarkan anak-anak pinggir berkompetisi dengan anak-anak kota, justru tidak adil. Berbagai afirmasi ini pada akhirnya akan memberi ruang dan kesempatan kepada semua siswa di Aceh. Saya membayangkan bahwa kebijakan seperti ini, pada akhirnya akan menghasilkan anak-anak gampong yang siap berkompetisi dengan anak-anak kota. Kebijakan seperti ini yang memungkinkan kompetisi ikut ujian perguruan tinggi negeri atau ujian akhir nasional, akan berlangsung seimbang.

Kondisi sekarang, secara akal sehat, tidak mungkin siswa dari kampung akan memiliki persentase tertinggi di PTN atau memiliki nilai tinggi di ujian akhir sekolahnya, bila apa yang mereka dapatkan di sekolah sama sekali tidak sebanding dengan perkiraan yang akan didapat. Bila ini tidak diperhatikan, maka untuk satu abad kemudian pun, selalu saja siswa-siswa brilian lahir dari tempat yang sama, siswa-siswa yang selama ini memang sudah menikmati berbagai kemajuan –yang itu belum dinikmati oleh anak-anak kampung. Dengan kondisi seperti sekarang, membayangkan anak-anak dari pedalaman mampu bersaing untuk merebut tiket olimpiade, hampir tidak masuk akal.

Belum lagi munculnya sekolah-sekolah bertaraf internasional dengan suasana kelas yang barangkali sangat berbeda hadir di Aceh. Saya hanya bisa berharap, bahwa jangan biarkan anak-anak gampong hanya menatap dari jauh melalui berbagai media tentang teman-temannya yang sekolah yang banyak fasilitasnya. Sedangkan dalam hati mereka bertanya, bagaimana bisa bersaing masuk ke sana, sedangkan jalan mereka bertaburan kekurangan.

Inilah beberapa pokok pikiran yang rasanya penting untuk direnungkan untuk memperkuat pembangunan pendidikan di masa mendatang. Tak hanya bagi pengambil kebijakan, tapi juga semua kita. Sekali lagi, soal keadilan dan kesamarataan dalam mengakses apapun.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment