Tulisan Daniel Murdiyarso pada Harian Kompas, posisi kutukan SDA yang makin dekat dengan kita. Nama Daniel Murdiyarso tidak asing, terutama bagi para pengkaji isu-isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia menulis sejumlah buku dan ikut dalam sejumlah pertemuan penting pada tingkat global. Pada tahun 1997, atas perintah pemerintah Orde Baru waktu itu, Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB), Daniel Murdiyarso menjadi anggota delegasi dalam Pertemuan Kyoto –pertemuan ini yang kelak melahitkan hal dan kebijakan penting global dalam isu lingkungan dan isu perubahan iklim. Berbekal saksi dan pengalaman tersebut, ia menulis sejumlah buku, antara lain Protokol Kyoto, Implikasinya bagi Negara Berkembang.
Pada tahun 2003, Daniel Murdiyarso menerbitkan tiga buku sebagai serial perubahan iklim. Selain, buku Protokol Kyoto, Implikasinya bagi Negara Berkembang di atas, ia juga menulis dua buku lainnya, yakni Sepuluh Tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi Perubahan Ikilim dan CDM, Mekanisme Pembangunan Bersih. Ketiga buku tersebut, untuk cetakan pertama diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Dalam buku CDM, misalnya, dijelaskan bahwa ia diterima sebagai salah satu cara dalam mengimplementasikan Protokol Kyoto.
Sedangkan dalam buku Protokol Kyoto, Implikasinya bagi Negara Berkembang, dijelaskan bahwa protokol sebagai perjanjian internasional tentang lingkungan yang paling kontroversial. Ia menjadi kebijakan lingkungan internasional terpenting abad 21. Belajar dari pengalaman 100 tahun yang lalu, orang menyadari betapa buruhknya planet bumi ini telah diperlakukan, sehingga iklimnya berubah. Jika pola hidup tidak berubah, diperkirakan dalam 100 tahun mendatang bumi tidak akan mendukung lagi kehidupan di atasnya. Protokol Kyoto mengamanatkan agar negara-negara maju menurunkan emisi rata-rata sebesar 5 persen dari tingkat emisi tahun 1990 pada periode 2008-2012.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.