Laju Kutukan SDA

Buku ketiga dari seri perubahan iklim, Sepuluh tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim, Daniel Murdiyarso menguraikan secara lengkap proses yang terjadi hingga setelah konvensi ini diselesaikan. Dalam pengantar buku ini, dijelaskan bagaimana keterlibatan secara aktif …

Buku ketiga dari seri perubahan iklim, Sepuluh tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim, Daniel Murdiyarso menguraikan secara lengkap proses yang terjadi hingga setelah konvensi ini diselesaikan. Dalam pengantar buku ini, dijelaskan bagaimana keterlibatan secara aktif Indonesia yang dari awal menandatangani Konvensi tentang Perubahan Iklim. Setelah itu, Indonesia senantiasa aktif dalam berbagai pertemuan membahas pelaksanaan konvensi ini, karena dampaknya sangat besar pada kehidupan masyarakat bangsa yang hidup di negara kepulauan ini.

Dalam satu tulisan pada Harian Kompas yang berjudul “Kutukan Sumber Daya Alam Makin Dekat”, ia mengomentari terutama terkait isu-isu konsensi tambang oleh pemerintah kepada lembaga keagamaan. Hal ini sangat krusial, mengingat perusahaan tambang profesional dan kaliber internasional saja masih saja menghadapi kesulitan dan belum sepenuhnya bisa mengendalikan dampak pertambangan, konon lagi lembaga keagamaan. Kaitan ini dengan kapasitas sumber daya manusia yang idealnya dipertimbangkan (Murdiyarso, 2024).

Kelimpahan sumber daya alam tidak menjadi jaminan dibarengi dengan kemampuan mengolahnya dengan baik. Hal inilah antara lain yang disebutkan Benjamin Smith dan David Waldner tentang paradoks kelimpahan dalam kemiskinan. Walau secara konsep masih terus diperdebatkan, namun kata kutukan sumber daya tepat saat melihat realitas kemiskinan dan ragam masalah sosial-politik di negara-negara yang kaya sumber daya alam (Smith & David Waldner, 2021).

Daniel Murdiyarso melihat soal kutukan sumber daya itu lebih jauh dan lebih dalam. Kelimpahan sumber daya alam itu justru menjadi masalah sangat serius dan akan terus-menerus meninabobokan bangsa sehingga lupa memintarkan generasi bangsa masa depan. Sumber daya manusia kita bermasalah pada saat berbagai ancaman bencana mengintai bangsa dari berbagai arah. Harusnya, apalagi menjelang tahun 2045 ketika Indonesia akan memasuki era emas, sumber daya manusia bukan hal yang sederhana. Bahkan lebih jauh, bencana yang semakin dekat dan makin banyak, justru kita sendiri yang mempersiapkan. Di sisi lain, daya tahan (resilience) kita kian menurun (Murdiyarso, 2024).

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment