Semalam saya kembali dari kampung. Kali kedua saya pulang. Sebelumnya pada hari kedua banjir surut. Selain menjenguk ibu dan keluarga, saya dan istri juga mengunjungi sejumlah orang yang saya kenal –termasuk teman. Melihat kondisi dan bersilaturahim mereka. Dalam kondisi musibah, kunjungan bisa jadi penting. Seperti kita datang ke rumah sakit, menjenguk orang yang sedang sakit. Secara medis, bisa saja ada pertimbangan tertentu. Namun orang-orang yang dikunjungi, tampak mereka lebih cerita. Walau soal medis, ada ilmunya. Sama seperti bencana, juga ada ilmunya. Kenyataannya, orang-orang yang kita kunjungi, lebih bergairah dan bisa banyak bicara. Paling banyak diceritakan kondisinya, sekaligus mungkin perasaan. Tanpa dikunjungi, bisa jadi tidak tahu hal yang mau disampaikan kepada siapa. Tidak mungkin, mereka sesama di sana bercerita sendiri.
Dengan hadir di sejumlah tempat, melihat titik-titik penting, termasuk jalan-jalan utama di lokasi, ada sejumlah hal yang penting perhatian. Bisa saja hal ini sudah dipikirkan. Salah satunya debu. Kondisi ini diakibatkan oleh lumpur sisa banjir, sebagian sudah kering dan tidak semuanya bersih dari jalan. Lalu bekas ini tergiling dengan ban kendaraan hingga kembali hancur. Dari sinilah, debu antara lain berasal. Plus soal satu lagi: perilaku manusia. Mereka yang mengendarai motor atau mobil, ada yang tidak mau sedikit pelan. Justru dari sini, debu makin gila-gilaan.
Saya kira debu ini akan berdampak ke hal lain: kesehatan. Tadi siang, saat duduk dengan sejumlah relawan yang sedang merencanakan proses mengantar bantuan ke lokasi, saya titipkan ditambah masker. Di depan saya, beberapa bergerak ke sejumlah apotik. Menurut laporan, mereka berhasil mendapatnya dengan jumlah signifikan. Saya konfirmasi teman di daerah yang belum saya kunjungi, mereka merasakan hal yang sama. Sejumlah tempat yang belum membersihkan lumpur, justru debu juga tebal. Termasuk di jalan utama yang baru membersihkan sisa lumpur seadanya.
Selain apa yang dibutuhkan, pemetaan tempat juga sangat penting. Entah siapa yang mengkoordinir hal semacam ini. Jangan sampai bantuan menumpuk di tempat tertentu, sedang di tempat lain tidak. Seorang teman penulis, yang tinggal di Sawang (Aceh Utara), katanya baru kemarin ada yang menjenguk dan membawa sejumlah kebutuhan. Mereka tidak bisa kemana-mana, karena jembatan yang menghubungkan mereka sudah terputus. Polisi mengantar bantuan dengan bantuan rakit bambu.
Terima kasih kepada para relawan yang tidak kenal lelah. Tetapi mudah-mudahan, masalah koordinasi juga sangat penting dalam rangka menjawab semua kebutuhan korban bencana. Masih ada daerah yang belum bisa dijangkau. Masih ada sarana transportasi yang bermasalah. Kapal laut, sudah bergerak. Terima kasih.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.