Ada kekayaan yang dimiliki semua masyarakat di dunia. Berbagai bentuk modal sosial, yang bisa digunakan dalam mewujudkan kondisi yang survive bagi kehidupan mereka sendiri. Dalam masyarakat Indonesia secara umum, gotong royong dan saling membantu, merupakan sejumlah modal sosial penting yang dimiliki. Gotong royong dan saling membantu ini, juga menjadi bahan pembelajaran di bangku-bangku sekolah. Mereka belajar secara teoritis, yang diperoleh dari pengalaman praktis di lapangan. Sejumlah materi bahan mata kuliah yang saya asuh, antara lain Pancasila dan Kewarganegaraan –dua mata kuliah yang sudah dipisah dalam bahan ajar perguruan tinggi—menggambarkan kekayaan sosial tersebut dalam kehidupan kita.
Modal sosial ini yang muncul ketika ada momentum tertentu dalam kehidupan masyarakat. Bencana ekologis, misalnya, melahirkan empati dan simpati yang tidak terhitung. Empati dan simpati ini bukan seperti kita menghitung angka yang sangat matematis, bukan seperti menghitung jumlah sawit yang masih tersisa selepas bencana ekologis. Ia berbicara rasa yang sulit diukur dengan angka. Jika ada warga yang ingin membantu manusia lainnya, mungkin ketika melihat layar televisi dan menggerakkan hatinya, semua itu tidak bisa diukur dengan pasti. Para relawan yang meninggalkan keluarganya berhari-hari untuk membantu korban, dengan tanpa pamrih, tidak bisa dihitung angkanya.
Modal sosial semacam itu, penting untuk diorganisir dengan baik. masalahnya fungsi koordinasi ini tidak berjalan dengan baik saat bencana. Realitasnya begini. Masyarakat memiliki rasa empati, namun mereka bisa saja bingung, apa yang mereka miliki akan dimanfaatkan dimana. Rasa sosial kemanusiaan yang mereka punya, khususnya dengan tenaga, akan membantu siapa? Bagi yang memiliki keluarga, mereka akan mencari keluarganya untuk membantu apa saja. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan secara langsung, bingung akan datang kemana dan akan berbuat apa.
Ketika berada di lapangan, saya melihat sejumlah truk berisi bantuan dan orang-orang yang mengantarnya berangkat dari kampung-kampung yang tidak kena dampak bencana. Mereka berangkat dengan dua truk: satu truk berisi bantuan dan satu truk berisi orang yang mengantar sekaligus pekerja yang akan membersihkan tempat-tempat di tempat yang dikunjungi. Saya belum mendapatkan informasi apakah ada pimpinan daerah yang tidak berdampak luas, misalnya mengarahkan measyarakatnya untuk membantu masyarakat yang berdampak berat bencana.
Saat masuk ke Blang Awe (Pidie Jaya), misalnya, saya melihat ada rombongan dari Tangse (Pidie) yang bekerja membersihkan masjid dan rumah warga. Saya kira realita ini sangat strategis dalam mempercepat proses pembersihan. Walau tetap ada keterbatasan, khususnya untuk bangunan yang sudah tertanam lumpur. Jika ada yang koordinasikan potensi ini, akan sangat membantu. Ada potensi lain yang perlu dibangkitkan, yakni memfasilitasi mereka yang memiliki upaya untuk saling membantu, tetapi tidak mengetahu akan kemana dan bagaimana. Secara ekonomis, pilihan ini pun lebih terukur dan dampaknya nyata. Selain dampak yang tidak nyata, berupa terbangunnya solidaritas kemanusiaan yang lebih hebat dalam melihat dunia masa depan.
Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.