Mengoreksi Ideologi Pembangunan

Berbagai kerusakan lingkungan, pada dasarnya tidak terjadi begitu saja. Ketika bencana, kadang-kadang baru kta amati dengan seksama bagaimana alam kita dirusak oleh manusia serakah. Misalnya hutan, yang bisa disaksikan melalui sejumlah ruang maya. Melalui daya …

Berbagai kerusakan lingkungan, pada dasarnya tidak terjadi begitu saja. Ketika bencana, kadang-kadang baru kta amati dengan seksama bagaimana alam kita dirusak oleh manusia serakah. Misalnya hutan, yang bisa disaksikan melalui sejumlah ruang maya. Melalui daya jelajah tertentu, tutupan alam bisa dilihat dengan terang. Kawasan hijau yang sebagian besar sudah kosong dan coklat. Hutan yang dibabat dan luasnya tidak tanggung-tanggung. Soal luas ini pun bukan sesuatu yang sulit untuk dilacak. Dengan cara kerja dalam ilmu spasial tertentu, soal luas bisa didapat. Demikian juga dengan pemetaan apakah kawasan yang rusak itu, berada dalam lahan atau kawasan, juga bisa dilacak.

Berubahnya suatu kawasan atau adanya alih fungsi, secara “forensik” juga bukan sesuatu yang sulit untuk dilacak. Semua kebijakan pemerintah atau pemerintah daerah pasti memiliki dokumen –yang dalam hal tertentu, oleh para pelaku kerap disembunyikan sehingga sebagian tidak bisa diakses. Dari dokumen, bisa diperbandingkan apakah ada yang sudah beralih fungsi atau masih tetap. Jika pun sudah beralih fungsi, juga bisa ditelusuri berapa luasnya, termasuk siapa aktor atau pihak yang melakukan proses tersebut. Dengan logika ini, menentukan apakah kerusakan atau perusakan itu dilakukan dengan legal atau ilegal, juga bisa dilacak.

Ada hal lain ketika berbicara mengapa manusia merusak alam. Alasan paling dominan terkait dengan pembangunan –lebih sempit sebagian berbicara tentang pendapatan. Dalam konteks pembangunan, segala sumber daya dianggap bisa menjadi media dalam rangka mewujudkan apa yang disebut sebagai kesejahteraan. Negara-negara miskin, utamanya karena sumber pendapatan yang kurang, sedangkan kebutuhan untuk pembangunan tinggi. Tidak sebanding antara pemasukan dan pengeluaran. Maka salah satu sumber pemasukan yang digarap dalam pembangunan adalah sumber daya alam.

Proses perusakan lingkungan hidup semacam itu, sudah disadari dari awal, namun dilakukan seperti tidak ada jalan lain. Dasarnya adalah upaya membangkitkan negara-negara besar setelah perang, yang membutuhkan modal dan sumber daya untuk menopang mereka. Sementara negaranya tidak memiliki sumber daya, sehingga yang dilakukan ekspansi terhadap negara-negara di dunia ketiga. Cara-cara kolonial tidak mungkin lagi dilakukan, maka skema yang dibangun kemudian disesuaikan dengan era modern. Dari sinilah, gerakan kapitalis dibangun dengan tujuan dasar sesungguhnya adalah pasokan bahan baku dan sumber daya bagi negara-negara besar yang berasal dari negara-negara kaya sumber daya di negara berkembang.

Ada berbagai skema yang dibangun untuk menjawab kebutuhan ini. Bukan hanya dengan proses yang hard, tetapi juga soft. Dalam realitas, hubungan dibangun, kerjasama dilakukan, namun dalam alam pikiran, dasar berpikir juga dibangun untuk mengubah cara pandang pada penguasa di negara-negara berkembang. Pilihan ini sudah dilakukan setelah Perang Dunia selesai. Saat negara-negara besar, baik yang menang atau yang kalah perang, sudah habis modal untuk membangun bangsanya. Mata mereka, beralih ke negara-negara lain yang memungkinkan dicengkeram.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment