Mentalitas Intelektual yang Memalukan

Suatu kali saya mendengar ceramah seorang senior saya dalam satu diskusi ilmiah. Menurutnya, berbagai pelanggaran semakin cenderung dilakukan orang-orang yang disebut sebagai intelektual. Orang berlabel ini juga melakukan korupsi, manipulasi karya ilmiah, jual beli jabatan, …

Suatu kali saya mendengar ceramah seorang senior saya dalam satu diskusi ilmiah. Menurutnya, berbagai pelanggaran semakin cenderung dilakukan orang-orang yang disebut sebagai intelektual. Orang berlabel ini juga melakukan korupsi, manipulasi karya ilmiah, jual beli jabatan, saling kedip mata dengan kaum politisi, mau bermain-main dengan grativikasi, dan tidak sedikit yang terlibat kejahatan birahi.

Perilaku semacam ini memalukan dilakukan seorang intelektual. Saya yakin perilaku ini tidak sedikit. Hanya waktu saja yang akan membukanya. Banyak intelektual yang bermental buruk. Padahal bagi publik, moral intelektual dipandang pada posisi terpandang. Posisi inilah, orang yang berbicara ideal, namun membabat juga dalam realitas. Orang yang seharusnya tiada henti berceramah tentang kebaikan, bersamaan dengan menolak menerima hal-hal yang tidak benar.

Saya ingin menulis hal ini tidak hanya untuk orang tertentu. Mereka yang menggunakan kesempatan dan jabatan tertentu di dalam kampus, untuk mendapatkan hal yang lain. Pilihan yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka yang kaum intelektual.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “intelektual” sebagai “cerdas; berakal; dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan”, dan “(yang) mempunyai kecerdasan tinggi; cendikiawan”. Kata ini berasal dari “intelek” yang berarti “Psi daya atau proses pikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan; daya akal budi; kecerdasan berfikir”, dan “(kaum) terpelajar; cendikia”.

Berdasarkan keterangan istilah ini, menjadi jelas bahwa intelektual adalah kaum terpelajar, memiliki kecerdasan, dan berhubungan dengan pendayagunaan kecerdasannya untuk perbaikan masyarakat. Orang-orang yang berlabel “pandai” sebagaimana dijelaskan sebagai yang “berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan”, seharusnya menjadi batasan dalam berperilaku.

Bila melihat konsep yang berikutnya, berupa “proses pikiran yang lebih tinggi berkenaan dengan pengetahuan”, bisa dimaknai dalam konteks daya guna. Dalam hal ini, seorang intelektual amat ditentukan oleh satu bahasa antara perkataan dengan perbuatan. Bukan “cakap tak serupa bikin”.

Secara sederhana, demikianlah yang bisa saya tangkap dari kata “intelektual” ini. Orang yang idealnya bermental baik, menggunakan hati nurani saat berhadapan dengan hal-hal krusial dalam hidupnya.

Dengan demikian, seperti disebut senior saya itu dalam kuliahnya, tidak terbayang hal-hal tersebut dilakukan oleh seorang yang disebut intelektual. Jika semua orang paham dirinya dipandang sebagai intelektual, lalu dengan sengaja melakukan hal-hal tersebut, harusnya wajahnya sudah dipasang pelindung lapis ketujuh.

Wallahu A’lamu Bish-Shawaab.

Leave a Comment